Pendidikan & Kesehatan

Relawan Covid-19 Takut Tertular karena Baju Hazmat Mudah Sobek

Tim relawan pemakaman BPBD Ponorogo saat melakukan pemakaman jenazah terpapar Covid-19. (Foto/Dok.beritajatim.com)

Ponorogo (beritajatim.com) – Alat pelindung diri (APD) menjadi sesuatu yang wajib dikenakan pada petugas pemakaman jenazah Covid-19. Ya, jenazah dengan status terpapar corona tersebut, mulai dari pemulasaraan hingga pemakamannya harus dengan trotokol kesehatan (prokes).

Namun, baju hazmat bagian dari APD itu, akhir-akhir ini dikeluhkan oleh tim relawan pemakaman BPBD Ponorogo. Sebab, baju yang diperoleh dari 2 minggu lalu itu, dikeluhkan rawan sobek saat digunakan dalam bertugas. Hal tersebut diungkapkan oleh Yusuf Fendi Kurniawan, salah satu relawan tim pemakaman BPBD Ponorogo. Dia khawatir jika baju hazmat yang dipakai dirinya dan tim relawan saat bertugas rusak, bisa memicu masuknya virus corona ke tubuhnya.

“Baju hazmat yang kita pakai akhir-akhir ini rawan sobek, ya takut aja saat bertugas bisa berpotensi terpapar virus,” kata Yusuf, Rabu (4/8/2021).

Sementara untuk mengakalinya jika sewaktu-waktu dalam bertugas sobek, Yusuf dan tim relawan lainnya, melengkapinya dengan kaos lengan panjang dan celana panjang. Tidak lupa juga menggunakan komponen APD lainnya, yakni sarung tangan, sepatu boot, topi atau APD level 1.

“Ya itu semua belum bisa menjamin sih, namun untuk antisipasi supaya tetap aman dan keselamatan bagi para relawan,” katanya.

Selain rawan rusak, pengiriman baju hazmat kadang juga terlambat dari dinas terkait. Terkait keluhan tersebut, Yusuf mengaku pihaknya sudah melaporkan kepada pimpinan. Sehingga nanti bisa berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk memperoleh baju hazmat yang baik dan berkwalitas.

“Jika ada pemakaman jenazah Covid-19 atau suspek dengan prokes, jika tidak ada hazmat, kami akan berkoordinasi dengan puskesmas setempat,” katanya.

Setiap ada pemakaman dengan prokes karena jenazah itu terkait Covid-19, ada 6 orang yang bertugas. Sebanyak 5 orang memakai baju hazmat dan satunya tidak pakai karena yang bertugas untuk mengedukasi masyarakat sekitar.

“Sederhananya, jika tidak ada baju hazmat, kami tidak berani melakukan pemakaman jenazah terkait Covid-19,” pungkasnya. [end/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar