Pendidikan & Kesehatan

Rekor Kasus Positif Harian Capai 8.369, Sebab Masyarat Lalai Protokol Kesehatan

Surabaya (beritajatim.com) – Pandemi Covid-19 masih berlangsung, tetapi masyarakat terlihat semakin abai dalam penerepan protokol kesehatan. Hal ini disampaikan langsung oleh Prof Wiku Adisasmoto, selaku koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19, Kamis (3/12/2020).

Prof Wiku mengatakan bahwa dari data yang masuk ke Satgas Covid Pusat menunjukkan bahwa perhari ini, (3/12) menjadi hari dengan rekor penambahan kasus positif harian terbanyak selama pandemi Covid-19 berlangsung di Indonesia, yakni sebanyak 8.369. Sedangkan kasus aktif menjadi 77.696 atau sebesar 13,9 persen.

Melonjaknya kasus positif harian ini terjadi karena terjadi perbedaan data daerah dan data pemerintah pusat karena keterlambatan data real time daerah sehingga terjadi penumpukan kasus. Prof Wiku mencontohkan, Papua perhari ini melaporkan sebanyak 1055 kasus positif dari akumulasi kasus sejak 19 November hingga 3 Desember.

“Ada beberapa daearah yang mengalami perbedaan data karena keterlambatan pendataan real time, untuk itu kami himbau agar pemerintah daerah segera melakukan konsolidasi dengan pemerintah pusat,” ujar Prof Wiku.

Meski keterlambatan pendataan real time daerah menjadi salah satu faktor tingginya kasus harian, tetapi dari data pun menunjukkan bahwa sisi lain kenaikan kasus positif terjadi pada periode libur panjang, 28 Oktober-1 November lalu.

“Berdasarkan website resmi bersatu lawan covid untuk perubahan perilaku, blv.bersatulawancovid.id terlihat bahwa pemantauan kedisiplinan yang dilakukan sejak 18 November sempat melangalami fluktuasi sejak minggu ke 4 November. Terjadi menurunnya trend, memakai masker dan menjaga jarak pada periode libur panjang 28 Oktober-1 November. Trend penurunan kepatuhan ini terus berlanjut hingga 27 November, prosentase memakai masker hanya mencapai 59,32 persen dan jaga jarak 43,46 persen,” katanya.

Prof Wiku pun menyampaikan, padahal telah ada temuan bahwa untuk menurunkan angka kasus positif dan kematian, dibutuhkan setidaknya 75 persen populasi masyarakat patuh memakai masker. Sedangkan sejak diberikannya libur panjang, masyarakat mulai lengah sehingga hanya 59 persen masyarakat Indonesia yang taat memakai masker.

Prof Wiku pun menunjukkan data prosentase lokasi kerumunan yang tidak taat masker, yakni di restoran/kedai (30,8), rumah (21), tempat olahraga publik (18,8), jalan umum (14), tempat wisata (13,9).

“dapat disimpulkan bahwa liburan panjang merupakan momentum pemicu penurunan kepatuhan disiplin protokol kesehatan dan kepatuhan tersebut semakin hari semakin menurun. Jika masyarakat semakin lengah dalam menjalankan protokol kesehatan seperti yang ditunjukan dalam 3 periode libur panjang, maka akan meningkatkan penularan maka jika dilakukan testing dan treaching akan menunjukan peningkatan kasus positif, maka sebanyak apapaun faskes yang tersedeia tidak akan mampau menampung lonjakan yang terjadi,” tegas Prof Wiku. [adg/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar