Pendidikan & Kesehatan

Rapid Tes Klaster Sampoerna, 4 Warga Kabupaten Mojokerto Positif

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto, dr Ulum Rokhmawan. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Dari hasil Tim Tracing Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Mojokerto terhadap orang yang kontak erat pasien diketahui ada satu pasien positif virus corona (Covid-19).

Dari klaster Sampoerna, ada empat warga Kabupaten Mojokerto yang hasil rapid tes positif, sementara dari klaster haji dilakukan swab ulang.

Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Mojokerto, Ardi Sepdianto mengatakan, Tim Tracing terus melakukan tracing utamanya karyawan Sampoerna.

“Kita harus suport penuh tenaga kesehatan. Banyak yang terpapar karena capek, imun turun sehingga kena. Gugus tugas berupaya keras untuk menanggulangi Covid-19,” ungkap Ardi, Sabtu (9/5/2020).

Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kabupaten Mojokerto ini meminta agar masyarakat Kabupaten Mojokerto untuk menjaga kedisiplinan dan menerapkan protokol kesehatan.

Seperti cuci tangan, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), memakai masker saat keluar rumah dan tetap di rumah.

Sementara itu, Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto, dr Ulum Rokhmawan menambahkan, adanya pasien terkonfirmasi positif Covid-19 di Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, sedikitnya 25 orang menjalani rapid test. Yakni mereka yang kontak erat dengan pasutri tersebut.

“Swab keluar positif hanya satu orang, lainnya negatif. Setiap ada yang swab positif, kita lakukan tracing. Diupayakan yang kontak erat dengan pasien. Minimal keluarga, tetangga, yang pernah kontak erat misal waktu (terulang) tempat (dekat) dan jarak (14 hari ke belakang melihat masa inkubasi). Dari semuanya, hanya satu itu yang positif (swab),” katanya.

Masih kata Sekretaris Dinkes Kabupaten Mojokerto ini, sehingga saat diketahui hasil rapid test dari orang yang kontak erat dengan pasien positif maka langsung dilakukan isolasi. Tujuannya agar pasien tidak pergi kemana-mana sehingga tidak menimbulkan ada cluster baru.

“Ini yang disebut Sistem Kewaspadaan Dini Resiko Kejadian Luar Biasa (SKDRKLB). Salah satunya skrining kesehatan, rapid test. Sehingga kita tahu lebih awal bisa melakukan tata laksana lebih awal. Tidak diketahui dahulu, tidak diisolasi bisa ke mana-mana. Cluster haji ada pemeriksaan swab lagi, ada 17 orang yang ikut pelatihan. Saya berharap tidak tambahan, teorinya tidak,” jelasnya.

dr Ulum menambahkan, terkait cluster Sampoerna, Tim Tracing melakukan pelacakan warga Kabupaten Mojokerto yang bekerja di PT HM Sampoerna Tbk Kota Surabaya. Namun hingga kini hasil swab belum keluar, ini lantaran swab baru dilakukan terhadap pegawai PT HM Sampoerna Tbk dalam minggu ini.

“Hanya pegawai Sampoerna Surabaya yang domisili Kabupaten Mojokerto, ada 4 orang yang hasil rapid test nya positif dan saat ini dijadwalkan swab. Baru seminggu ini dilakukan karena tiap hari rapid tes, karena banyak cluster, OPD, PDP sehingga puskesmas yang ambil sampling. Nanti kalau ada yang positif baru ditelusuri dari cluster mana,” tegasnya.[tin/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar