Pendidikan & Kesehatan

Puskesmas Sambit Tutup Setelah Merawat Pasien ini…..

Keadaan lingkungan Puskesmas Sambit yang tampak lengang, karena sementara ditutup. (Foto/Istimewa)

Ponorogo (beritajatim.com) – Penambahan kasus baru yang masif di Ponorogo, sebenarnya juga terjadi di kabupaten/kota lainnya di Jawa Timur. Saat ini, penularan virus yang berasal dari Wuhan China tersebut, tergolong cukup tinggi. Hampir setiap hari, sejak awal bulan Desember tahun lalu, selalu ada penambahan kasus.

“Penambahan kasus yang massif ini, menjadikan beberapa petugas nakes kami juga ikut terkonfirmasi positif Covid-19,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo drg. Rahayu Kusdarini, Kamis (7/1/2021).

Ketika ada nakes yang terkonfirmasi, mau tidak mau akan menggangu pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat. Irin ambil contoh di puskesmas Sambit yang saat ini ditutup.

Dia bercerita bahwa beberapa hari yang lalu merawat pasien. Awalnya belum menampakkan gejala Covid-19. Namun, setelah dirawat itu, ternyata terkonfirmasi positif Covid-19. Karena sudah dirawat beberapa hari dan kontak dengan petugas nakes. Si petugas pun merasa perlu untuk memeriksakan kesehatannya.

“Meski dalam merawat pasien tersebut, petugas kami menerapkan protkes yang ketat. Tetapi demi keamanan dalam melayani masyarakat, pihaknya akhirnya memutuskan untuk melakukan test terhadap petugas di puskesmas Sambit,” katanya.

Total ada 48 petugas di puskesmas Sambit, yang melakukan test swab. Oleh sebab itu, pihaknya akhirnya memutuskan total pelayanan di puskesmas tersebut, sambil menunggu hasil swab yang keluar. Dia mencatat, bahwa hanya puskesmas Sambit saja yang saat ini dilakukan penutupan. Sementara puskesmas lainnya, seperti di puskesmas Slahung, Nailan, Jenangan, Bungkal dan Jetis dilakukan pengurangan jadwal layanan.

“Ada beberapa nakes yang melakukan testing. Sambil menunggu hasil keluar, sehingga berakibat dengan mengurangi jam pelayanannya,” katanya.

Pungurangan jam pelayanan itu misalnya, UGD yang biasanya buka 24 jam, kini hanya dibuka sampai pukul 20.00 WIB. Yang biasanya menerima rawat inap, karena keterbatasan tenaga, sementara tidak melayani rawat Inap. Memang kebijakan ini merepotkan semua elemen masyarakat.

“Semakin abai masyarakat terhadap protkes, maka penularan semakin tinggi. Membuat nakes banyak yang tertular dan membuat pelayanan kesehatan masyarakat menjadi turun,” katanya. [kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar