Pendidikan & Kesehatan

Pulang dari Surabaya, 4 Hari Dirawat, PDP Asal Ponorogo Meninggal

Bupati Ipong Muchlissoni (foto/Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Ada satu lagi PDP asal Ponorogo meninggal dunia. Almarhum meninggal setelah empat hari dirawat di RSUD dr. Harjono Ponorogo.

“PDP yang meninggal ini adalah laki-laki berumur 40 tahun dari Kecamatan Sampung,” kata Bupati Ipong Muchlissoni, Rabu (17/6/2020).

PDP yang meninggal ini punya riwayat perjalanan dari Surabaya. Dia datang terakhir dari kota Pahlawan pada tanggal 2 Juni. Kemudian pada tanggal 13 Juni, dia mengeluh demam, batuk, sesak dan dirujuk ke RSUD dr. Harjono Ponorogo.

“Pasien PDP ini dirawat di rumah sakit selama empat hari, dari hasil pemeriksaan rontgent terdapat pheneumoni bilateral,” katanya.

Saat dirawat, yang bersangkutan sudah dilakukan test Swab. Yakni pada tanggal 15-16 Juni 2020. Namun, Ipong menyebut bahwa hasil Swab keduanya belum keluar.

Dengan adanya kejadian ini, Ipong kembali mengimbau kepada seluruh masyarakat Ponorogo yang berada di luar kota dan dalam keadaan sakit, sebaiknya tidak pulang dulu, sampai benar-benar sembuh.

“Jangan dulu bepergian ke luar kota, terutama di daerah-daerah yang sudah zona merah. Dengan tidak bepergian, berarti kita sudah berusaha memutus rantai penukaran Covid-19,” katanya.

Lebih lanjut, Ipong menghinbau kepada kepala desa/luran dan seluruh perangkatnya hingga ketua RT dan RW untuk terus melakukan monitoring. Monitoring terhadap keluar masuknya orang di lingkungannya. Selain itu tetap menerapkan isolasi bagi warga yang baru datang dari zona merah.

“Protokol kesehatan harus tetap dipatuhi dan dilaksanakan dengan disiplin,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, satu pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 asal Ponorogo meninggal. Laki-laki berumur 30 tahun, selama ini bekerja di Surabaya. Yang bersangkutan kembali ke Ponorogo pada tanggal 10 Juni 2020 dengan naik bus.

“PDP ini pulang dalam keadaan sakit,” kata Bupati Ipong Muchlissoni, Senin (15/6/2020).

Tiba di bumi reyog, yang bersangkutan dijemput oleh pihak keluarga dan tim satgas desa. Saat akan dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa, PDP ini menolak dan memaksa pulang ke rumah asalnya di Kecamatan Sooko.

“Dia diisolasi di desa, sebab melihat kondisinya tidak memungkinkan untuk isolasi mandiri,” katanya.

Sehari kepulangannya, kondisi PDP ini sesak, tim nakes puskesmas setempat memotivasi yang bersangkutan untuk dirujuk ke rumah sakit. Sempat pulang ke rumahnya untuk bertemu orangtuanya, baru akhirnya bersedia dirujuk dan dirawat di salah satu rumah sakit swasta di bumi reyog.

“Sampai di rumah sakit langsung dilakukan rapid test dan hasilnya non-reaktif. Namun, hasil rontgentnya pheneumoni bilateral. Dan hasil labolatorium didapati indikasi gagal ginjal,” kata Ipong. [end/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar