Pendidikan & Kesehatan

Pulang dari Brunei Darussalam, Pekerja Migran Asal Ponorogo Ditolak Isolasi di Desanya

Nurhadi (jaket merah, red) saat tiba di kantor Kecamatan Bungkal. (Foto/Istimewa)

Ponorogo (beritajatim.com) – Nasib malang harus diterima oleh Nurhadi, pekerja migran Indonesia (PMI) asal Ponorogo yang baru pulang dari negara Brunei Darussalam. Setelah melakukan serangkaian penanganan pencegahan Covid-19 di Surabaya, yang bersangkutan dijemput oleh Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Ponorogo untuk pulang ke kampung halaman bumi reyog.

Yang menjadi masalah, setelah sampai Ponorogo, tidak ada desa yang mau menampungnya untuk kembali menjalani isolasi sebelum bertemu keluarganya. Desa Jabung Kecamatan Mlarak yang selama ini menjadi tempat domisili Nurhadi, tidak menyetujui untuk jadi tempat isolasi dengan alasan Nurhadi merupakan warga Desa Kupuk Kecamatan Bungkal. Begitu sebaliknya, meski ber-KTP di Desa Kupuk, pemdes setempat tidak berkenan, karena sudah lama tidak berada di desa tersebut.

“Nurhadi, PMI asal Brunei Darussalam sampai di Ponorogo Senin (7/6) kemarin, dia akhirnya kami lakukan isolasi di ruang isolasi Satgas Covid Kecamatan Bungkal atau bisa dibilang di kantor kecamatan,” kata Camat Bungkal Bambang Sucipto, Selasa (8/6/2021).

Bambang menceritakan ikhwal tidak berkenankannya Nurhadi diisolasi di dua desa tersebut. Dia bercerita bahwa dulu Nurhadi pernah punya istri dari Desa Kupuk. Hingga akhirnya Nurhadi berdomisili dan ber-KTP di desa yang berada di Kecamatan Bungkal tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, istri Nurhadi meninggal. Di desa itu, Nurhadi masih serumah dengan sang mertua.

“Meski masih tercatat sebagai warga Desa Kupuk, namun Nurhadi sudah tidak punya keluarga maupun aset dan lama meninggalkan Desa Kupuk,” katanya.

Informasinya, kata Bambang yang bersangkutan ini menikah lagi. Dan istrinya itu berada di Desa Jabung Kecamatan Mlarak. Meraka mengarungi bahtera rumah tangga di rumah sang sitri, di Desa Jabung. Meski begitu, Nurhadi ternyata belum pindah kependudukan sebagai warga Jabung. Hingga yang bersangkutan bekerja keluar negeri dengan status KTP di Desa Kupuk Kecamatan Bungkal.

Beberapa mediasi dilakukan dengan pemdes, dan muspika Kecamatan Bungkal dan pihak Disnaker, mengambil jalan tengah untuk menyelesaikan permasalahan ini. Yakni yang bersangkutan diputuskan melakukan isolasi di lantai 2 kantor Kecamatan Bungkal, yang kebetulan ruang itu sudah tidak digunakan. Sehingga tidak mengganggu aktivitas pelayanan masyarakat di kantor tersebut. Selain itu, disisi protokol kesehatan tempat itu terpenuhi. “Atas dasar kemanusiaan, Nurhadi diputuskan untuk menjalani isolasi di kantor Kecamatan Bungkal,” katanya.

Nurhadi nantinya akan menjalani isolasi selama 3 hari, hingga menunggu tes swab kedua, setelah sebelumnya di Surabaya. Nanti kalau hasil tes swabnya negatif, yang bersangkutan bisa dipulangkan ke rumah istrinya yang berada di Desa Jabung.

“Mulai hari ini dari petugas kecamatan ikut membantu untuk menguruskan proses perpindahan kependudukan Pak Nurhadi ke desa yang sama dengan istrinya,” ungkapnya.

Bambang menambahkan, di tempat isolasi kantor kecamatan, Nurhadi dipantau terus kesehatannya oleh tim medis Puskesmas Bungkal. Kondisinya sehat dan tidak ada keluhan apapun. Selama diisolasi yang bersangkutan kebutuhan makan minumnya dicukupi oleh berbagai pihak. “Kami bergotong royong semua untuk mencukupi kebutuhannya, termasuk keluarganya kemarin juga kirim makanan,” pungkas Bambang. (end/kun)



Apa Reaksi Anda?

Komentar