Pendidikan & Kesehatan

PTT Sekolah di Jember Lebih Susah daripada Guru Honorer

Foto: Supriyono

Jember (beritajatim.com) – Kondisi pegawai tidak tetap (PTT) sekolah di Kabupaten Jember, Jawa Timur, lebih susah daripada guru tidak tetap (GTT). Kepala sekolah kesulitan menggaji mereka.

“PTT ini nasibnya jelas-jelas sangat memprihatinkan,” kata Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia Jember Supriyono.

“Jumlah PTT ini 1500 orang. Ada penjaga sekolah, operator, kepala tata usaha. Mereka tidak jelas standar honornya. Tergantung sekolah. Sak paring-paring,” kata Supriyono.

Ada penjaga sekolah yang dihonor Rp 150 ribu per bulan. “Maksimal sekolah yang kaya memberi Rp 500 ribu. Itu pun tidak banyak. Yang banyak Rp 200 ribu,” kata Supriyono.

Kepala sekolah bingung mencari honor untuk operator sekolah. “Dari BOS (Bantuan Operasional Sekolah) juga tidak ada petunjuk,” kata Supriyono. Pemerintah pusat dan daerah tak memiliki standar untuk menggaji mereka.

“Kepala sekolah harus ‘akrobat.’ Kalau dulu mereka menafsirkan (gaji PTT berasal dari BOS sebesar) 15 persen itu. Sekarang ini dengan surat edaran menteri sudah jelas, harus GTT yang dibayar. PTT-nya tidak dimasukkan,” kata Supriyono.

Saat ini PTT digaji dengan sangat terbatas. “Padahal peran mereka sangat menentukan. Kita sangat berharap, sama-sama komponen pendidikan, tolong diperhatikan,” kata Supriyono.

Solusinya adalah surat keputusan bupati. “Maka itu kalau ada SK (Surat Keputusan) dari bupati yang mengatur ini, saya yakin bisalah. Tidak akan bertentangan,” kata Supriyono.

Supriyono membandingkan dengan Probolinggo. “Sama-sama pemerintah kabupaten, bupatinya mengeluarkan SK (untuk GTT dan PTT). Kenapa Jember tidak bisa? Kami harapkan bupati bisa secara bijaksana, bagaimana pendidikan di Jember ini bisa diselenggarakan dengan baik, dengan memperbaiki nasib guru.”

Supriyono menegaskan, perbaikan pendidikan di Jember mendesak dan harus segera dilakukan. “Jika tidak dilakukan, akan jadi persoalan,” katanya.

Rita, PTT dari salah satu sekolah, membenarkan jika ingin diperlakukan seperti GTT. “Ingin seperti GTT yang dapat surat penugasan,” katanya. (Wir/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar