Pendidikan & Kesehatan

Psikolog Ubaya Ajak Belajar Bahagia Tidak Harus Dengan Uang

Surabaya (beritajatim.com) – Pandemi virus corona Covid-19 telah membawa arus kebiasaan baru yang sebelumnya terasa mustahil dilakukan. Kegiatan hampir semua dilakukan dari rumah.

Tentunya hal ini baik untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Tetapi dampaknya ekonomi tidak berputar secara maksimal, bahkan beberapa orang mendapati ekonominya mandek.

Terkait hal itu, Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya) mengadakan seminar online dengan tema “Antara Uang dan Kebahagiaan. Seminar ini dilaksanakan guna menyelisik peran uang dalam menggapai kebahagiaan di tengah Covid-19. Berlangsung menggunakan aplikasi zoom, seminar ini dihadiri sedikitnya 115 peserta.

Fakultas Psikologi Ubaya mendatangkan dua dosen psikologi Ubaya sebagai narasumber yang akan membawakan materi yaitu Honey Wahyuni Sugiharto Elgeka, S.Psi., M.Ed dan Taufik Akbar Rizqi Yunanto, S.Psi., M.Psi., Psikolog.

Seminar dimulai dengan pengenalan mengenai teori kebutuhan dari Abraham Maslow. Teori ini menjelaskan secara singkat mengenai kebutuhan manusia. “Uang adalah bagian dari kebutuhan dasar manusia yang ada di posisi physiological,” tutur Honey. Menurutnya, hal itu bisa terjadi karena ketika kita mempunyai uang maka semua kebutuhan dasar kita dapat terpenuhi.

“Ketika kebutuhan fisik ini terpenuhi maka kebutuhan psikologi seperti safety, love and belonging, esteem, dan self-actualization juga terpenuhi,” lanjutnya.

Melihat kondisi saat ini, Honey memberikan beberapa saran agar kita tetap dapat bahagia di tengah pandemi Covid-19 dengan sudut pandang psikologi ekonomi. “Kita melihat uang sebagai alat untuk menjadi sesuatu bukan sebagai sumber kebahagiaan,” tuturnya.

Honey berpendapat bahwa meluangkan waktu untuk keluarga juga dapat membantu kita mendapatkan kebahagiaan sekaligus menghemat pengeluaran. “Kita perlu memiliki perspektif yang benar mengenai penggunaan uang dan mencari kebahagiaan jangka panjang yaitu eudaimonia,” tegasnya.

Taufik berpendapat bahwa ketika ekonomi kita sedang baik, hal itu justru membuat kita stress. “Meskipun kebutuhan dasar kita terpenuhi, masih saja kita belum puas. Kepuasan itu hal yang tidak akan bisa kita penuhi karena sifatnya hanya sesaat,” jelasnya. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh manusia yang selalu ingin lebih dan tidak pernah merasa cukup. “Kita akan bahagia kalau kita dapat membuat orang lain bahagia. Jadi bahagia dengan berbagi tanpa menjatuhkan orang lain,” tambahnya.

Menurut Taufik, kunci agar tetap dapat bahagia dalam perpektif psikologi positif ialah perlu ada pengendalian emosi dalam diri. Hal ini dapat di atasi dengan cara menyeimbangkan antara emosi positif dan negatif. “Jadi yang membuat kita tidak bahagia itu sebenarnya karena kita melakukan blocking terhadap emosi,” tuturnya. Taufik juga berpendapat bahwa pembangunan relasi pada keluarga pun turut penting supaya antar anggota keluarga dapat saling terbuka satu sama lain. [kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar