Pendidikan & Kesehatan

Prosentase Kesembuhan Pasien Covid-19 di Ponorogo, Tertinggi di Jatim

Petugas dari BPBD Ponorogo memakaikan masker kepada warga yang melintas di jalan. (Foto/Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Pelan-pelan kasus Covid-19 di Ponorogo mulai melandai. Oleh karena itu, BNPB menyematkan Ponorogo sebagai zona kuning Covid-19. Artinya, wilayah tersebut merupakan resiko rendah penularan dari virus corona. Capaian tersebut, merupakan buah kerjasama satgas penanggulangan Covid-19 Ponorogo dalam menegakkan protokol kesehatan. Dan juga andil dari kepatuhan masyarakat Ponorogo dalam menerapkan 3 M, yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak dalam kegiatan sehari-harinya.

“Alhamdulillah Ponorogo zona kuning, semoga bisa naik status menjadi zona hijau Covid-19,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo drg. Rahayu Kusdarini, Sabtu (14/11/2020).

Penilaian keberhasilan penanganan Covid-19 itu dilihat dari tingginya angka kesembuhan dan rendahnya angka kematian. Irin sapaan akrab drg. Rahayu Kusdarini mengeklaim angka kesembuhan Ponorogo yang tertinggi di wilayah Jawa Timur. Dari 555 kasus positif, jumlah pasien yang sembuh di Ponorogo mencapai 520 orang. Artinya tingkat kesembuhan pasien di bumi reyog mencapai 93,69 persen. Angka tersebut lebih tinggi dari rata-rata angka kesembuhan di wilayah Jawa Timur, yang tingkat kesembuhannya diangka 89,16 persen. “Angka kesembuhan pasien Covid-19 di Ponorogo, salah satu yang tertinggi di wilayah Jawa Timur,” katanya.

Data angka pasien meninggal Covid-19 Ponorogo pun juga lebih rendah jika dibandingkan dengan angka meninggal rata-rata di wilayah Jawa Timur. Kasus pasien Covid-19 yang meninggal di Ponorogo ada 19 kasus. Prosentasenya hanya 3,45 persen. Sedangkan angka rata-rata kasus meninggal di wilayah Jawa Timur mencapai 7,13 persen. Irin menyebut jika 90 persen kasus konfirmasi Covid-19 di Ponorogo karena adanya riwayat perjalanan dari luar daerah.

“Kemungkinan berubah menjadi zona hijau itu selalu ada. Namun, untuk menjadi zona hijau itu selama 4 minggu berturut-turut tidak ada satu pun penularan kasus konfirmasi baru,” pungkasnya. (end/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar