Pendidikan & Kesehatan

Prosedur Pengiriman Warga ke Karantina di Stadion JSG Jember Membingungkan

Bupati Faida saat meninjau Stadion Jember Sport Garden (JSG). (foto: Humas Pemkab Jember)

Jember (beritajatim.com) – Standar prosedur operasional pengiriman warga yang baru datang dari daerah zona merah Covid-19 ke pusat karantina di Stadion Jember Sport Garden, Kabupaten Jember, Jawa Timur, ternyata tidak jelas. Petugas mengalami kebingungan teknis di lapangan.

Bupati Faida memerintahkan hanya ada dua opsi bagi pemudik atau mereka yang baru bepergian dari zona merah dan hendak menetap di Jember: kembali ke tempat semula atau dikarantina di JSG selama 14 hari. Perintah itu terpasang di spanduk-spanduk di pos pantau perbatasan.

Namun kendati sudah berjalan sejak awal April lalu, ternyata masih ada perbedaan pemahaman prosedur teknis di lapangan. Setiap warga yang masuk ke Jember dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun umum memang menjalani pemeriksaan kesehatan dan mengisi formulir yang menerangkan kondisi kesehatan masing-masing.

“Yang dikirim ke JSG itu karena suhu tubuhnya 38 derajat, dan selama observasi di Puskesmas Silo 1 tidak juga turun. Itu salah satu indikasi. Dari sini (pos) kalau suhu 38 derajat tidak juga turun setelah setengah jam, kami kirim ke puskesmas dengan ambulans. Itu tanda-tanda awal. Dari puskesmas setelah didiagnosis lebih mendalam lagi, kronologi (riwayat perjalanan) dari mana ketemu siapa, baru dirujuk ke JSG,” kata Camat Silo Nunung Agus Andriyan.

Kepala Kepolisian Sektor Sempolan Ajun Komisaris Suhartanto berpendapat sebaliknya. “Dari petunjuk dan arahan bupati Jember, tanpa melihat suhu badan. Mau suhunya di bawah 38 derajat, normal, apalagi di atas 38 derajat, intinya mereka yang dari zona merah yang mudik masuk ke Kabupaten Jember harus kita karantina. Kalau tidak mau dikarantina, ya balik kanan,” katanya, Rabu (23/4/2020).

Suhartanto mengatakan, warga yang akan dikarantina diminta mengisi lembar pernyataan kesepakatan di pos pantau perbatasan. Namun ternyata sebagian warga yang sudah sepakat masuk karantina itu justru ditolak oleh petugas di JSG.

“Setelah mereka dikasih tahu dan tanda tangan, langsung kami kirim ke JSG. Ternyata di JSG kadang masih beda persepsi. Mereka masih ditanyai lagi di JSG: mau tidak masuk ke Jember, mau tidak dikarantina. Masih banyak pertanyaan, jawaban, dan saling alibi. Kadang sebagian yang kami kirim ke JSG, oleh (petugas di) JSG ditolak dan dikembalikan. Tidak jadi karantina selama 14 hari,” kata Suhartanto.

Kepala Kepolisian Sektor Sumberbaru Ajun Komisaris Subagyo membenarkan jika prosedur menetapkan setiap pemudik harus dikarantina selama 14 hari di JSG. “Kami siapkan dua ambulance bila ada yang perlu dikirim ke JSG. Kalau tidak pakai ambulance, apa bisa dipertanggungjawabkan kalau dia sampai tujuan. Ini protap antisipasi karena orang itu dari zona merah,” katanya.

Namun, Subagyo juga mengakui, bahwa ada 10 orang warga yang masuk ke Jember dari zona merah yang batal dikarantina oleh petugas di JSG. “Yang bersangkutan tidak bersedia di JSG, minta observasi (isolasi) mandiri. Dari JSG harus ada surat pernyataan,” katanya.

Subagyo sendiri tak mempersoalkan. Ia hanya melaksanakan keinginan pemerintah daerah. “Bulan puasa awal ini kemungkinan sudah banyak yang mudik. Apalagi warga di zona merah saat ini banyak yang sudah tidak bekerja karena dirumahkan,” katanya.

Bagi Suhartanto, masalah prosedur ini harus diperjelas. “Hal-hal seperti itu masih kami komunikasikan dengan pihak di JSG, biar sama persepsinya. Jadi kalau sudah jelas dari zona merah yang mudik ke Jember, sudah kami lakukan screening, pemeriksaan, dan mereka sanggup dikarantina di JSG, sudah membuat pernyataan di blangko, ya seharusnya di JSG tinggal didata dan dikarantina saja. Jangan sampai sudah kami kirim, lalu dikembalikan lagi. Akhirnya kami bingung,” katanya.

Suhartanto mengatakan, saat ini belum memasuki masa puncak pemudik. Namun sebagian warga Jember di Bali sudah mulai pulang kampung, karena tidak bisa bekerja setelah dirumahkan.

Suhartanto berpatokan pada apa yang sudah diputuskan Bupati Jember Faida. “Intinya sudah tidak ada toleransi, pendatang dari zona merah hanya ada dua pilihan. Jangan ada beberapa macam alasan dan lain sebagainya. Dalam rangka melindungi masyarakat Jember dari penyebaran corona, kita harus tegas,” katanya.

Pengecualian hanya untuk warga Jember yang ke daerah lain hanya untuk bekerja dan tak menetap, saat kembali tidak perlu dikarantina di JSG. “Itu juga versi dari dokter juga begitu. Kalau hanya bekerja tidak apa-apa,” kata Subagyo.

Rata-rata warga yang masuk ke Jember dan melintasi perbatasan Silo bisa lebih dari seribu orang setiap hari. Tapi tidak semua warga ini adalah pemudik. “Sebagian kan ada yang hanya melintas. Mungkin mereka dari Bondowoso, Lumajang, Surabaya (dalam perjalanan) dari arah timur hanya melintas dan tidak turun di Jember, ya hanya dilakukan pemeriksaan biasa,” kata Suhartanto.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Jember Gatot Triyono menolak berkomentar soal prosedur ini. “Saya tak berkomentar dulu,” katanya. (wir/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar