Pendidikan & Kesehatan

Program 31 Hari, Recon Ajak Masyarakat Paham Pentingnya Jaga Kesehatan

Surabaya (beritajatim.com) – Relawan Covid-19 Nasional (Recon) mengajak masyarakat untuk paham pentingnya menjaga kesehatan. Karena hal tersebut sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Recon menggelar program tersebut selama 31 hari, yakni dumulai 1 Agustus 2020.

Hal itu merupakan program yang diadakan oleh Dirjen Dikti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI). Tujuannya, memberikan sosialiasi dan edukasi kesehatan untuk memutus rantai Covid-19.

Kegiatan yang sebelumnya telah dilaksanakan mulai dari proses rekruitmen pada awal Maret ini telah menghasilkan banyak program untuk masyarakat luas. Seperti Rumah Bahasa, Hoax Buster, Balai Erona, dan sekarang 31 hari tantangan adaptasi.

Martining Shoffa Puspitaningrum, mahasiswi Universitas Airlangga yang juga bertugas sebagai salah satu relawan mengatakan, edukasi kesehatan pada masyarakat luas ini tentu sangat diperlukan dan harus dilakukan secara terus menerus.

Sehingga informasi yang diberikan akan dengan sendirinya tertanam pada benak masyarakat. Tidak hanya dengan sosialiasi secara daring, namun sosialiasi secara luring pun harus dilakukan. Dengan begitu, informasi dapat secara menyeluruh dan intensif.

“Program 31 hari tantangan adaptasi kebiasaan baru itu isinya sosialisasi/KIE secara daring dan luring. Jadi setiap hari selama 31 hari itu ada jadwalnya memposting materi-materi yang disosialisasikan. Nah setiap relawan juga diminta untuk minimal dua kali semingga KIE secara luring (meliputi pasang poster, atau edukasi lewat pengeras suara di musala-musala, balai RW, atau memutar video di balai RW,” jelasnya.

Informasi dan update Covid-19 ini diharapkan tidak hanya dapat diakses melalui media resmi pemerintah, tapi juga bisa melalui mahasiswa yang berperan sebagai Agent Of Change dan dekat dengan masyarakat sekitarnya.

“Ya, yang ingin dicapai, biar masyarakat bisa tahu informasi-informasi dan update tentang Covid-19. Tidak cuma lewat media resmi pemerintah, tapi juga lewat mahasiswa, biar masyarakat bisa tahu juga apakah broadcast WA itu hoaks atau bukan,” tambahnya.

Edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan ini diharap sebagai penyadaran terhadap masyarakat secara luas dan bisa juga ikut berperan aktif di dalamnya. Ini juga berlaku kepada para mahasiswa dan bisa memberikan edukasi sekaligus sebagai pengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat.

“Selama Covid-19 serasa tidak ada kegiatan, jadi semacam tantangan untuk memberikan edukasi ke masyarakat secara langsung maupun tidak langsung,” pungkas Shoffa. [suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar