Pendidikan & Kesehatan

‘Professor Summit 2020’ Bahas Tantangan Profesor di Era Pandemi

Surabaya (beritajatim.com) – Pandemi Covid-19 yang bersamaan dengan era digitalisasi dan industri 4.0 telah banyak menimbulkan persoalan baru yang harus segera dicarikan pemecahannya secara cepat, tepat, dan efektif.

Menyikapi hal tersebut, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menghelat agenda Professor Summit 2020, sebuah forum yang mewadahi pemikiran dan karya inovatif profesor di Indonesia untuk membangun dan menyelesaikan persoalan bangsa.

Kegiatan tahunan Dewan Profesor (DP) ITS yang baru diadakan untuk kali kedua ini diikuti oleh para 45 profesor (guru besar) dari seluruh Indonesia dan tiga pelaku profesional yang bekerja sama dengan Majelis Dewan Guru Besar PTN Badan Hukum (MDGB PTNBH), Forum Dewan Guru Besar Indonesia (FDGBI), dan Asosiasi Profesor Indonesia (API).

Penyelenggaraan Professor Summit yang diselenggarakan pada 3-6 November 2020 secara daring kali ini mengambil tema Challenges of Professors in the Era of Covid-19 Pandemic and Beyond atau Tantangan Profesor di Era Pandemi Covid-19 dan Sesudahnya. Tema ini merupakan tanggapan terhadap permasalahan yang sangat aktual pada saat ini yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dan seluruh dunia.

Salah satu kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian acara Dies Natalis ke-60 ITS ini terdiri dari enam seminar nasional yang meliputi Seminar Nasional Teknologi dan Kedaulatan Sumber Daya Laut; Seminar Nasional Industri Kreatif, Ekonomi, dan Pertanian; Seminar Nasional Dinamika Perkembangan Kelistrikan dan Informatika; Seminar Nasional Sains, Analitika Data, dan Kesehatan; Seminar Nasional Inovasi Infrastruktur Berwawasan Lingkungan; dan Seminar Nasional Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Hukum.

“Ditambah lagi dengan sebuah Seminar Karya Inovasi Profesor dari Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum,” jelas Prof Dr Ir Imam Robandi MT, Sekretaris Dewan Profesor ITS yang juga bertugas sebagai Sekretaris MDGB PTNBH.

Rektor ITS Prof Dr Ir Mochamad Ashari MEng menyambut kegiatan Professor Summit yang kedua ini secara positif. Ia menceritakan bagaimana inovasi para pemikir merupakan kunci dari penyelesaian masalah yang terjadi di masyarakat, khususnya ITS sendiri. Seperti bagaimana ITS mengumpulkan berbagai tenaga untuk membuat face shield sebagai tanggap darurat dari tidak adanya masker di lapangan pada awal-awal pandemi.

“Ketidaksiapan Indonesia menghadapi pandemi mendorong kami (ITS, red) membuat proyek face shield dan berhasil memproduksi 170 ribu selama tiga bulan, lalu kami bagikan secara gratis ke rumah sakit hingga puskesmas dan dari Aceh hingga Papua,” ujar Ashari.

Guru besar Teknik Elektro ITS itu juga mengungkapkan bagaimana peran inovasi industri 4.0 seperti karya hasil kolaborasi ITS dengan Universitas Airlangga dalam membuat robot Raisa yang sangat membantu tenaga medis dalam menangani pasien Covid-19. “Robot Raisa ini sangat berguna khususnya di awal masa pandemi, sebab saat itu rumah sakit di Surabaya kekurangan sumber daya manusia akibat tenaga medis yang banyak terkena Covid dan harus dikarantina,” ungkapnya.

Profesor di Indonesia Belum Merdeka
Sementara itu, Ketua API Prof Dr Ir H Ari Purbayanto MSc menyatakan bahwa para profesor di Indonesia saat ini masih belum merdeka. Ia sendiri menganggap profesor di Indonesia belum bersatu. Sehingga, ia berharap melalui kegiatan ini semua profesor dapat saling memberikan arahan dan membantu satu sama lain, sehingga menjadi lebih maju khususnya wilayah ASEAN.

“Para profesor Indonesia tidak boleh hanya diam saja agar negara tidak salah arah. Kita harus terus meningkatkan kualitas dan kuantitas, memberi masukan kepada pemerintah dan mampu membawa negara ini menjadi lebih maju,” tandasnya mengingatkan.

Ari juga menyayangkan kuantitas profesor di Indonesia sebanyak 5.389 orang yang terhitung masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan 268 juta jumlah penduduk Indonesia. Apalagi, sebanyak 45 persen dari jumlah tersebut atau 2.395 profesor masih berada di 11 PTNBH yang terpusat di Pulau Jawa.

“Kita (para professor, red) belum merdeka sebab masih terkungkung di kampus masing-masing, saya sedih melihat kualitas wilayah pelosok sebab terlalu terpusat di Jawa. Mengapa profesor tidak diberikan kebebasan mengajar di kampus-kampus lain?” keluh Ari mempertanyakan.

Ia juga menyesali bagaimana gelar profesor di Indonesia yang terlalu terpaku pada publikasi Scopus. Menurutnya, seharusnya profesor mampu berinovasi dan diakui manfaatnya, selain menulis di jurnal Scopus yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan dari gelar profesor. Namun, kenyataannya jika belum terakreditasi scopus maka ia tidak akan diakui sebagai profesor.

Selain itu, ia juga menyorot adanya topik penelitian yang sebenarnya sangat berkualitas, namun bisa saja tidak terdanai karena keterbatasan dana yang tersedia. “Dalam hal ini Malaysia masih jauh lebih baik dari kita, sebab mereka setiap membuat proposal langsung mendapat dana, sementara kita harus diseleksi sebab dana yang dibatasi,” ungkap Ari.

Pada kesempatan yang sama, Ketua DP ITS Prof Dr Ir Nadjadji Anwar MSc berharap adanya forum untuk bertukar informasi mengenai pemikiran-pemikiran dan karya-karya inovatif yang telah dihasilkan oleh para professor. Sehingga dapat membangun dan menyelesaikan persoalan bangsa.

“Melalui kegiatan ini (Professor Summit, red) saya harap dapat menjadi wadah untuk meningkatkan sensitivitas para profesor agar bisa menjaga idealisme, integritas, dan mengutamakan kemanfaatan dalam berkarya,” pungkasnya penuh harap. [adg/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar