Pendidikan & Kesehatan

Profesor Pendidikan Unej: Daring Berdampak Buruk Jangka Panjang

Suratno, guru besar ilmu pendidikan Universitas Jember di Kabupaten Jember [foto: Oryza A. Wirawan]

Jember (beritajatim.com) – Suratno, guru besar ilmu pendidikan Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengatakan, pembelajaran tatap muka sudah harus dibuka dengan melibatkan pelaku lintas sektoral.

“Sekolah tidak bisa ditinggalkan. Dari beberapa catatan, efektivitas pembelajaran daring, di tingkat mahasiswa, 75 persen menyatakan tidak efektif. Jadi efektivitasnya tidak tinggi,” kata Suratno.

Dampak lain dari pembelajaran daring, menurut Suratno, adalah soal tumbuh kembangnya anak. “Di keluarga, interaksinya juga berkurang, komunikasi berkurang. Ini akan memebri kendala tersendiri terhadap tumbuh kembang anak,” katanya.

“Kemudian juga tekanan psikologi, bahwa orang tua juga mulai agak gundah gulana. Bahkan beberapa kita mendapatkan orang tua sampai menjewer anaknya segala macam. Ini menimbulkan dampak psikologis tidak baik,” kata Suratno.

Berikutnya, lanjut Suratno, dalam jangka panjang, pembelajaran daring akan memunculkan ancaman. “Ini kan sudah setahun daring. Ini ancaman terhadap perkembangan intelektual siswa dan karakter. Tidak ada suatu negara, tidak ada pemerintahan, yang dikatakan maju jika kualitas pendidikannya tidak tercukupi dengan baik. Walaupun suatu daerah seperti apa bagusnya, tapi kalau tingkat partisipasi pendidikannya rendah juga tidak akan baik,” katanya.

Suratno mengingatkan, selama ini tingkat literasi warga dalam bidang sains dan matematika rendah. “Apalagi sekarang ini. Kami belum dapatkan data-data soal literasi itu, tapi yang jelas banyak kendala psikologis yang muncul pada orang tua dan anak. Ini menyebabkan tidak baik pada jangka panjangnya,” katanya.

Suratno menegaskan, pembukaan kelas pembelajaran tatap muka agar dilakukan berjenjang. Pembelajaran tatap muka di peguruan tinggi bisa dilakukan belakangan. “Karena mahasiswa berasal dari mana-mana, yang tracing-nya jadi agak sulit. Tapi kalau pendidikan dasar, sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah, siswanya kan paling banter satu desa atau satu kecamatan. Kalau SMP, biasanya siswanya satu kecamatan. Kalau SMA, siswanya bisa satu kabupaten,” katanya.

“Bila dibuka kelas pembelajaran tatap muka, harus ada standar regulasi dan operasional. “Baik dalam protokol kesehatan maupun pembelajarannya. Marka-marka di sekolah harus jelas,” kata Suratno.

Dalam pembelajaran, menurut Suratno, aktivitas yang melibatkan kedekatan fisik harus dihindari. “Kita harus lebih banyak melibatkan aktivitas mental daripada aktivitas fisik. Untuk sementara seperti itu. Dalam konteks pandemi, aktivitas mental diutamakan,” katanya. [wir/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar