Pendidikan & Kesehatan

Profesor dari Jepang Teliti Kekebalan Orang Indonesia Terhadap Kanker Lambung

Surabaya (beritajatim.com) – Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) hari ini kembali menyelenggarakan Penganugrahan Adjuct Professor Yoshio Yamaoka, MS.,. PhD yang berasal dari Departement of Enviromental and Preventive Medicine Faculty of Medicine Oita University, Yufu, Japan, Kamis (28/3/2019) di Aula FK UNAIR.

Prof. Yoshio Yamaoka

Penganugrahan ini merupakan upaya FK UNAIR untuk meningkatkan kualitas penelitian dan publikasi yang lebih baik. Fokus penelitian Prof. Yoshio adalah masalah Bakteri Helicobacter Pylori yang banyak ditemukan di Jepang, Korea dan Cina.

Purnomo Boedi Setiawan, dr., Sp.PD, K-GEH, selaku Ketua Departemen Penyakit Dalam mengatakan bahwa kerjasama dengan Prof. Yoshio telah terjalin sejak 2012 lalu sedangkan kerjasama resmi dengan Universitas Yufu Japan telah berlangsung selama 3 bulan.

Prof. Yoshio ini akan melanjutkan penelitian masalah bakteri Helicobacter Pylori yang dapat menyebabkan kanker lambung. Kasus ini menjadi perhatian khusus karena Indonesia terutama di Indonesia kasus kanker lambung karena bakteri Helicobacter Pylori hanya ditemukan sebanyak 2,8 persen itu pun mengerucut ke tiga suku, yakni Dayak, Bugis dan Papua.

Sedangkan di negara lain kanker lambung biasanya secara mayoritas dikarenakan bakteri Helicobacter Pylori tersebut. Di Cina, Korea dan Jepang 90 persen penyakit kanker lambung biasanya disebabkan oleh bakteri tersebut.

“Di berbagai penjuru dunia, penyakit kanker lambung sangat tinggi dan biasanya disebabkan oleh bakteri Helicobacter Pylori sedangkan di Indonesia kasus kanker lambung sendiri sangat rendah dan jarang yang dikarenakan Helicobacter Pylori. Untuk itu ini jadi menarik dan kita bisa berkolaborasi untuk bisa meneliti ini lebih jauh,” ujar Profesor yang juga mengajar di Departement of Medicine – Gastroenterology Baylor College of Madicine, Houston USA ini.

Sebelumnya Prof. Yoshio telah melakukan penelitian terkait kasus ini. Ia meneliti tentang perbedaan tubuh orang Melayu yang hampir tidak mengalami kasus tersebut, di Aceh, Sunda dan di beberapa dataran Melayu lainnya ditemukan 0 (nol) persen kasus kanker lambung dikarenakan bakteri Helicobacter Pylori terkait dengan makanan yang di konsumsi.

“Sebelumnya kami sudah melakukan riset terkait makanan yang dikonsumsi tetapi hasilnya ternyata makanan tidak mempengaruhi kenapa orang Indonesia (Melayu, red) memiliki kekebalan yang lebih baik dari pada lainnya,” tambah Prof. Yoshio.

Saat ini pun, Prof Yoshio sedang fokus pada kemungkinan perbedaan iklim dan asal usul ras yang menjadi hipotesa kekebalan orang Melayu terhadap bakteri Helicobacter Pylori ini.

Untuk itu riset ini menjadi salah satu fokus penting Departemen Penyakit Dalam FK UNAIR. Muhammad Miftahussurur, dr., M.Kes., Sp.PD., Ph.D salah satu dosen Departemen Penyakit Dalam mengatakan bahwa kerjasama ini tidak hanya pada tingkat riset dan publikasi melainkan juga pertukaran dokter dari Universitas Yufu, Jepang ke FK UNAIR dan sebaiknya.

“Ada 4 doktor yang dikirim kesana (Yufu, red) untuk belajar kasus bakteri Helicobacter Pylori lebih dalam, saya yang pertama pada tahun 2012 lalu dan ada 3 orang lain yang menyusul setelah saya,” ungkap dokter Mifta. [adg/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar