Pendidikan & Kesehatan

Webinar Komunitas Seni Budaya BrangWetan

Prof Wardiman Ungkapkan 3 Penyebab Intoleransi

Sidoarjo (beritajatim.com) – Dalam rangkaian program “Cinta Budaya Cinta Tanah Air” yang berlangsung selama satu tahun, Komunitas Seni Budaya BrangWetan menyelenggarakan acara “Training Pembuatan Kegiatan Penguatan Toleransi Untuk Guru atau Pembimbing Ekstrakurikuler.” Pelaksanaan acara ini diselenggarakan secara daring (online) Rabu – Kamis, 28 – 29 Oktober 2020, dan diawali dengan sambutan pembukaan oleh Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, periode 1993 – 1998.

Henri Nurcahyo, pendiri komunitas seni dan Budaya BranGWetan, menuturkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) merupakan serangkaian kegiatan di luar jam pelajaran sekolah di tingkat menengah pertama dan tingkat atas, yang biasanya dibagi menurut minat dan bakat siswa. Pembina kegiatan ekskul kebanyakan dikelola oleh tenaga dari luar sekolah, namun ada juga yang langsung ditangani oleh guru yang bersangkutan.

“Dalam hal ini komunitas seni dan Budaya BranGWetan akan melakukan peningkatan pemahaman toleransi di kegiatan ekstrakurikuler dengan melibatkan guru atau pembimbing ekstra di masing-masing sekolah mitra penerima manfaat. Narasumber yang memberikan materi dihadirkan dari LPPM Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, yaitu Dr. A. Rubaidi, MAg; Amin Hasan, MPd dan Hernik Faisia, MpdI,” tutur Henri, Rabu (28/10/2020).

Manajer Program “Cinta Budaya Cinta Tanah Air”, Moh. Masrullah, mengharapkan bahwa kegiatan ini dapat meningkatkan kemampuan guru atau pembimbing dalam menanamkan penguatan toleransi kepada siswa dan mampu berperan untuk menciptakan karakater dan perilaku siswa yang mengedepankan nilai toeransi di sekolah dan lingkungannya.

“Kegiatan ini dinilai sangat penting karena akan berdampak langsung terhadap kemampuan guru atau pendamping ekstrakurikuler dan siswa dalam memahami toleransi di sekolah dan lingkungannya. Disamping itu juga diharapkan akan memudahkan guru dalam menyusun kegiatan ekstrakurikuer yang berbasis toleransi karena akan menghasilkan materi pembelajaran dan dipraktekkan langsung kepada masing-masing sekolah,” papar Moh. Masrullah.

 

Menurut Masrullah, target kegiatan ini adalah, agar terjadi perubahan perilaku terhadap guru/pembina ekskul terkait peningkatan pemahaman toleransi di sekolah, dan mampu mempromosikan nilai-nilai toleransi menggunakan model kegiatan ekskul kepada siswa-siswanya. Muara dari kesemuanya, yaitu terciptanya model kegiatan ekskul pasca pelatihan; dan adanya peningkatan pemahaman dan perubahan perilaku siswa mengenai toleransi.

Sejak dilangsungkan mulai bulan Juli yang lalu, BrangWetan sudah melakukan Focus Discussion Group (FGD) untuk stakeholder pendidikan, disusul Workshop Toleransi untuk para Kepala Sekolah dan Wakilnya, kemudian bulan Oktober yang lalu berupa kegiatan pelatihan untuk guru mata pelajaran.

Kegiatan kali ini diikuti oleh 5 (lima) SMP dan 5 (lima) SMA di 5 (lima) kecamatan di Sidoarjo yang menjadi sekolah mitra penerima manfaat mengirimkan para guru dan/atau Pembina ekskul dalam bidang Pramuka, Seni Budaya, Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), Science, Pustakawan, Seni Lukis, dan Karawitan.

Sementara itu, dalam saat acara berlangsung, Prof Wardiman Djojonegoro menuturkan bahwa toleransi sangat diperlukan karena masyarakat sangat beragam. Ada daerah yang maju, daerah yang aman, atau daerah yang masih ketinggalan.

“Toleransi diperlukan agar diantara kita tidak saling gontok-gontokan,” katanya.

Bagaimana cara meningkatkan rasa toleransi? “Yaitu dengan cara mengurangi rasa unggul diri kita sendiri, kelompok kita atau daerah kita, dan menganggap rendah kelompok yang lain,” katanya.

Prof Wardiman lantas mengurai, dalam zaman modern ini, ada tiga hal yang menyebabkan terjadinya intoleransi:

1. Ketidaksamaan antar daerah, antar kota, yang dijadikan pemicu atau alasan untuk bentrokan. Ada orang-orang yang menjadikan perbedaan menjadi sarana untuk merendahkan atau menyerang orang atau kelompok lain.

2. Pengaruh internet, kita menjadi sangat mudah mengeluarkan pendapat yang disadari atau tidak, akan mudah pula membuat orang lain tersinggung. Kemudahan internet juga menyebabnya mudahnya kabar bohong (hoax) menyebar sehingga menjadikan berita panas. Kebebasan berpendapat justru menjadikan hal yang tak kondusif.

3. Pemilihan kepala daerah (Pilkada), ini juga menjadi pemicu timbulnya intoleransi. Karena dalam kontestasi Pilkada ini orang cenderung mencari-cari perbedaan dan kemudian dilegalkan. Orang dengan mudahnya menghantam kelompok lawan untuk mendapatkan kemenangan. Terlepas benar apa tidak. Hal inilah yang membuat situasi tidak kondusif dan intoleransi.

“Saya berharap acara webinar ini dapat menemukan solusi untuk mengatasi intoleransi dan bagaimana mendorong semangat toleransi,” tandasnya. [but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar