Pendidikan & Kesehatan

Prof Soetojo: Hukuman Kebiri Tidak Efektif

Prof Soetojo

Surabaya (beritajatim.com) – Hari ini terpidana kasus pelecehan dan kekerasan anak di Mojokerto, Aris (20) untuk kali pertama menjalani hukuman kebiri kimia, Senin (26/8/2019) di Mojokerto.

Ditetapkan bersalah atas kasus pelecehan dan kekerasan anak, Aris juga mendapat hukuman kurungan selama 12 tahun, dikenakan denda Rp100 juta, subsider 6 bulan kurungan dan putusan hukuman kebiri ini  inkrah berdasarkan putusan Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya.

Kasi Intel Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto, Nugroho Wisnu mengatakan, vonis hukuman pidana bagi predator anak itu tertuang dalam Putusan PT Surabaya dengan nomor 695/PID.SUS/2019/PT SBY, tertanggal 18 Juli 2019.

“Putusannya sudah inkrah. Kami segera melakukan eksekusi. Untuk wilayah Mojokerto, ini yang pertama kali. Kalau untuk pidana kurungannya sudah bisa dilakukan eksekusi. Namun untuk kebiri kimia, kami masih mencari rumah sakit yang bisa,” ungkapnya, Senin (26/8/2019).

Terkait putusan hukum kebiri inipun mendapatkan respon dari beberapa pihak, salah satunya dari Ahli Urologi, Kepala Departemen Urologi FK Unair, Prof Dr Soetojo dr SpU. Prof Soetojo berpendapat bahwa kasus pelecehan seksual merupakan tindakan amoral yang tidak ada hubungannya dengan hormon.

“Pelecehan seksual dalam kondisi apapun tidak ada hubungannya dengan tinggi atau rendahnya hormon testosteron. Bukan berarti pemerkosa memiliki hormon testosteron yang lebih tinggi daripada umumnya,” ujar Prof Soetojo yang sekaligus Dekan Fakultas Kedokteran UNAIR, saat ditemui beritajatim.com, Senin (26/8/2019).

Ia kemudian menambahkan bahwa hukuman kebiri dirasa hukuman bukan hukum yang cukup memberikan efek jeda.

“Di kebiri tidak menjamin, pelaku tidak akan mengulangi kebejatan yang serupa. Karena sifatnya amoral. Yang sesuai ya harusnya hukuman moral,” tambahnya.

Secara medis, hukuman kebiri memang mampu menurunkan hormon testosteron dan fungsi ereksi tetapi menurut Prof Soetojo, hal tersebut tidak membatasi seseorang untuk melakukan pelecehan seksual.

“Saat ini penetrasi seksual tidak hanya bisa lewat penetrasi konvensional (penis dan vagina, red), banyak cara untuk penetrasi tersebut yang juga bisa dialihkan ke bentuk pelecehan. Hukuman ini menjadi tidak efektif jika tidak dibarengi dengan hukuman yang sifatnya perbaikan moral,” tegasnya. [adg/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar