Pendidikan & Kesehatan

Prof Ismunandar: Pendidikan Vokasi Harus Berbasis Industri

Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Airlangga (UNAIR) menjadi tuan rumah Sidang Komisi Gabungan Majelis Senat Akademik Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (MSA PTNBH). Sidang berlangsung di Aula Amerta Lt. 4, Kantor Manajemen Universitas Airlangga.

Sidang dilakukan dengan topik “Pengelolaan Pendidikan Vokasi dalam Pengembangan Kurikulum dan Pelaksanaan Multi-Entry Multi Exit”. Sebelum sidang berlangsung, dilakukan pemaparan materi oleh narasumber kunci. Narasumber kunci tersebut adalah Prof. Dr. Ismunandar (Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan). Sebagai pembicara.

Prof. Ismunandar memaparkan beberapa point bahwa Pendidikan Vokasi pada tahun 2024 lebih banyak meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) setelah meningkatkan infrastruktur pendidikan. Peningkatan kualitas SDM untuk saat ini masih belum nampak. Akses pendidikan tinggi masih kurang untuk dijangkau.

Jumlah beasiswa yang diberikan pemerintah masih belum mampu membantu meningkatkan SDM. Jumlah penerima beasiswa saat ini sebanyak 600 ribu dari 7,5 juta mahasiswa. Jenis beasiswa yang diberikan berupa Bidikmisi dan PPA.

Dari segi tenaga pendidik, dosen dengan gelar S3 masih belum cukup untuk mengembangkan pendidikan. Jumlah dosen dengan gelar S3 saat ini masih 240 ribu dosen. Pada tahun 2024 diharapkan jumlah dosen S3 mampu mencapai angka 470 ribu.

Capaian publikasi ilmiah para dosen diharapkan mampu untuk mendorong pengembangan pendidikan. Publikasi ilmiah juga harus diimbangi dengan capaian target masuk World Class University (WCU). Tahun ini universitas yang masuk WCU masih tiga universitas. Harapannya, pada tahun 2021 mampu bertambah hingga lima universitas.

Untuk menunjang pendidikan vokasi, kurikulum diharapkan mampu berbasis industri hingga 50 persen. Sertifikasi dan akreditasi dalam pendidikan vokasi juga mampu membantu lulusan tenaga kerja. Kemampuan dalam berinovasi mahasiswa diharapkan mampu diberikan dalam perkuliahan.

Prof. Ismunandar juga memberikan pesan bahwa PTNBH harus bekerja dalam bidang yang sulit dan mampu memberikan sebuah inovasi. Selain itu, vokasi sebagai pendidikan mampu dipisahkan dari PTNBH. Pemisahan tersebut bertujuan agar lebih fokus dalam menata kurikulum pendidikan dan kelembagaan.

“Pemisahan vokasi dari PTNBH dapat dilakukan dengan cara spin off. Spin off memiliki kelebihan dan kekurangan. Yang menjadi hambatan dari spin off adalah penambahan biaya cukup tinggi. Diharapkan mampu menjadi masukan untuk dimusyawarahkan,” ujar Prof. Munandar. [adg/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar