Pendidikan & Kesehatan

Prof Dr Hendy Hendarto Kaji Infertilisasi dan Bayi Tabung

Surabaya (beritajatim.com) – Prof. Dr. Hendy Hendarto, Dr, Sp.Og(K) adalah guru besar Bidang Ilmu Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) ke-113 yang dikukuhkan Unair pada Kamis (12/19/2019). Acara pengukuhan dilakukan di Aula Garuda Mukti Kantor Manajemen Unair bersama dengan pengukuhan 3 guru besar lain.

Dalam kesempatan pidatonya, Prof. Hendy menyampaikan orasi ilmiah mengenai bayi tabung Sebagai Teknologi Terkini Untuk Mengatasi Infeltirisasi. Guru besar FK tersebut memaparkan bahwa di dalam masyarakat Indonesia yang sering disalahkan sebagai penyebab infertilisasi adalah pihak perempuan. Padahal, baik pihak laki-laki maupun perempuan memiliki resiko yang sama besarnya, yakni sebesar 40 persen.

“Ada bias gender di masyarakat kita, kalau ada pasangan suami istri yang susah memiliki anak, pasti yang banyak disalahkan adalah pihak perempuan,” ungkap Prof. Hendy.

Masalah non medis seperti faktor lingkungan, pola hidup, kegemukan, dan faktor usia juga dapat mempengaruhi siklus ovulasi pada perempuan sehingga menyebabkan penurunan kesuburan.

“Ini perlu diperhatikan, usia pada perempuan itu menjadi yang paling kritis, saat menginjak usia 35 tahun sel telur pada perempuan itu sudah mengalami penurunan kualitas, dan kalo stress jangan makan banyak-banyak nanti obesitas yang menyebabkan penurunan kesuburan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Prof. Hendy mengungkapkan, terkait dengan bayi tabung, adalah teknik fertilisasi in vitro yang merupakan salah satu teknik dalam teknologi reproduksi berbantu untuk mengatasi permasalahan infertilisasi pada pasangan suami istri.

Perkembangan bayi tabung pertama kali dilakukan pada tahun 1970an di Inggris, dan pertama kali dilakukan di Indonesia baru pada tahun 1987 di RSAB Harapan Kita. Dan di tahun 1992 lahir bayi tabung pertama di RSUD Dr. Sutomo Surabaya bernama Ken Kinasih.

Perjalanan panjang perkembangan bayi tabung sudah lebih 40 tahun, namun, ungkap Prof. Hendy, biaya masih cukup tinggi. Tingginya biaya pada bayi tabung disebabkan karena 3 hal, yaitu biaya pemeriksaan awal, obat-obat stimulasi ovarium, dan peralatan laboratorium FIV.

“Penggunaan teknologi yang canggih dan pemakaian obat yang mahal menyebabkan pelayanan bayi tabung tidak mudah diakses, walaupun kebutuhan akan itu meningkat” tuturnya.

“Sebagai informasi, kami telah melakukan penelitian penggunaan sel puncah darah menstruasi untuk mengatasi kegagalan ovarium pada model tikus, dengann harapan nantinya ini bisa diterapkan pada manusia sehingga kegagalan ovarium yang menyebabkan tidak bisa mendapatkan keturunan secara permanen bisa diatasi,” jelasnya.

Lebih lagi, biaya untuk bayi tabung sangatlah mahal di Indonesia terkait hal itu Prof Hendy mencoba menciptakan inovasi yang mampu menekan biaya bayi tabung. Dengan penelitian dari Prof Hendy, biaya normal bayi tabung dapat ditekan hingga 50 persen. Namun, tentunya penelitian tersebut harus banyak dilakukan penyempurnaan, karena menurutnya penelitian tersebut belum benar benar menghasilkan kualitas yang maksimal.

“Masih perlu perbaikan karena secara kualitas, masih 30 persen dibawah teknologi yang saat ini berkembang,” ungkapnya.

Masih belum maksimalnya usaha Prof Hendy dalam menemukan formula yang ramah ongkos, karena untuk mendapatkan sel telur yang terbaik dibutuhkan teknologi tinggi dan mahal. Oleh karenanya program dan penelitian ini perlu di dukung oleh pemerintah.

Prof Hendy merupakan Dosen Pendidik Klinis (DPK) yang bertugas di RSUD DR. Soetomo Surabaya. Meskipun bukan dari dosen FK Unair, Prof. Hendy didukung penuh oleh akademisi FK Unair, tak terkecuali Dekan FK Unair, Prof. Soetojo.

“Kami terus mendukung DPK untuk berpacu dan bersaing secara akademis Para DPK memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi profesor. Banyak guru besar yang tidak hanya berasal dari Dosen NIDN (Nomor Induk Dosen Nasional, red) sekarang banyak juga DPK yang bisa menjadi guru besar dan mendapatkan NIDK (Nomor Induk Dosen Khusus, red). Oleh karenanya kami mendorong dokter untuk berpacu untuk menjadi guru besar tahun ini,” ujar Prof. Soetojo.

Prof. Soetojo mengatakan secara keseluruhan di FK memiliki presentase NIDK dan NIDN yang setara atau 50 persen banding 50 persen. [adg/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar