Pendidikan & Kesehatan

Pro dan Kontra Penerapan Jam Malam di Surabaya

Foto ilustrasi

Surabaya (beritajatim.com) – Penerapan jam malam bakal diberlakukan di Surabaya. Hal ini diterapkan melalui perubahan Perwali No 28 Tahun 2020 tentang transisi new normal.

Ke depannya, Perwali itu akan mengatur pembatasan aktivitas malam atau jam malam. Aturan jam malam bakal diterapkan mulai pukul 22.00 WIB sampai pukul 05.00 WIB.

“Di mana di situ akan ada pembatasan aktivitas masyarakat di luar rumah, diharapkan selesai pada pukul 22.00 WIB. Sampai dimulainya aktivitas masyarakat jam 04.00 atau jam 05.00 WIB,” kata Kepala Bakesbangpol Surabaya Irvan Widyanto.

Aturan jam malam ini dipastikan berlaku bagi semua masyarakat tanpa kecuali. Hanya aktivitas kesehatan dan logistik yang nantinya masih boleh berjalan 24 jam.

“Kegiatan yang masih diperbolehkan yang berhubungan dengan kesehatan, yang berhubungan dengan logistik dan berhubungan dengan pelayanan pokok masyarakat,” imbuh Irvan

Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara mengatakan, rencana penerapan jam malam itu dilakukan karena banyak masyarakat yang melakukan aktivitas bersepeda di malam hari.

“Ada beberapa aktivitas setelah kemarin di evaluasi, ternyata banyak yang masih berkerumun. Terutama banyak aktivitas yang bersepeda itu,” kata Febri.

Menurutnya, pemantauan aktivitas mayarakat di malam hari membutuhkan perhatian yang ekstra. Hal itu bertujuan untuk memutus penyebaran COVID-19 di tengah pandemi yang belum mereda.

Di sisi lain, penerapan jam malam di Kota Surabaya menuai kritik dari DPRD Surabaya. Salah satunya, hal itu diucapkan oleh politisi PKB Mahfudz.

“Menurut saya jam malam itu adalah langkah frustrasi sebenarnya. Jadi Pemerintah Kota sudah frustrasi tidak punya solusi yang efektif yang solusi yang bisa mencegah virus ini. Akhirnya dia malam itu diberlakukan kembali,” ujarnya.

Mahfudz bahkan meyakini jika penerapan jam malam tidak ada gunanya. “Jam malam itu langkah frustrasi. Nggak ada fungsinya jam malam itu,” cetusnya.

“Apapun itu ya efek jam malam untuk pencegahan Corona itu apa? Nggak ada. Kalau memang mau dilakukan, ya udah lockdown saja. Nggak boleh keluar semua manusia itu di rumahnya semua itu benar-benar kita mencegah penyebaran. Tapi jam malam jam sekian sampai jam sekian, besoknya aktivitas lagi, nggak ada efeknya,” tambah Mahfudz.

Untuk itu, Ia meminta agar jajaran pemerintahan Wali Kota Risma agar bijak. “Karena di Surabaya ini masih banyak warga yang punya usaha di malam hari begitu diberlakukan jam malam maka dia waktu usahanya akan terpotong. Ada orang itu warga yang usahanya mulai habis magrib kalau jam malam, berapa jam mereka buka usahanya? Apa Pemerintah Kota berani memberikan subsidi untuk mereka? Ini juga yang harus dipikirkan,” pungkasnya. [ifw/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar