Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

PPDB Ponorogo 2022, 10 SMPN Penuhi Pagu Peserta Didik

Sekretaris Panitia PPDB Dindik Kabupaten Ponorogo, Soeran (Foto: Endra Dwiono/beritajatim.com)

Ponorogo (beritajatim.com) – Pendaftaran peserta didik baru (PPDB) secara online tingkat SMPN di Ponorogo resmi ditutup Sabtu (25/6) lalu. Dilihat dari keterpenuhan pagu siswa, PPDB tingkat SMPN hasilnya lebih baik dari tingkat SDN.

Sedikitnya sudah ada 10 SMPN di Bumi Reog dengan pagu sudah terpenuhi. Sementara untuk SDN, sementara hanya satu sekolah yang pagunya terpenuhi yaitu SDN 1 Mangkujayan.

Sekretaris Panitia PPDB Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Ponorogo, Soeran mengatakan dari 56 SMPN di Ponorogo, hanya 10 sekolah yang pagunya sudah terpenuhi. Sekolah tersebut yaitu semua SMPN di Kota Ponorogo kecuali SMPN 3 Ponorogo, lalu SMPN 1 Jetis, SMPN 1 Bungkal, SMPN 2 Balong , SMPN 1 Kauman dan SMPN 2 kauman.

“Di Kecamatan Kota yang terpenuhi pagunya SMPN 1, 2, 4, 5, 6, sementara yang di kecamatan ada SMPN 1 Jetis, SMPN 1 Bungkal, SMPN 2 Balong , SMPN 1 Kauman dan SMPN 2 Kauman,” ungkap Soeran.

Di kecamatan kota, kata Soeran, hanya SMPN 3 Ponorogo saja yang pagunya belum terpenuhi. Diperkirakan sekolah itu kurang sekitar 70 siswa dari pagu yang ditentukan sebanyak 224 siswa.

Menurutnya, hampir setiap tahun SMPN 3 Ponorogo tidak memenuhi pagu. Sehingga pihaknya memberi kelonggaran dengan memperpanjang pendaftaran peserta didik baru.

“Pendaftaran dilakukan secara offline, jika pagu sudah terpenuhi maka pendaftaran juga akan ditutup sewaktu-waktu,” katanya.

Tidak hanya untuk SMPN 2 Ponorogo saja, pendaftaran secara offline ini, juga berlaku untuk SMP lainnya yang belum memenuhi pagu. Batas waktu pendaftaran secara online itu dibuka selama siswa belum masuk tahun ajaran baru.

“Jadi pendaftaran offline ini bukan saja untuk SMPN 3 Ponorogo saja, tetapi juga sekolah SMPN yang belum memenuhi pagu,” jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, dari 580 SD Negeri di bumi reog, sekolah yang terpenuhi pagunya sementara hanya satu sekolah. Yakni SDN 1 Mangkujayan yang ada di tengah kota.

“Laporan PPDB SD belum masuk semua, untuk sementara yang masuk panitiabaru SDN 1 Mangkujayan yang terpenuhi pagunya,” kata Soeran.

Banyaknya SD yang belum terpenuhi pagunya ini, sudah berlangsung beberapa tahun terakhir. Kebanyakan yang kekurangan pagu, sekolah yang berada di pinggiran. Soeran menyebut berdasarkan analis di lapangan, ada beberapa penyebab yang terjadi. Yang paling utama, kata Soeran adalah jumlah angka kelahiran yang sangat menurun.

“Rata-rata anak pertama dan orangtuanya pergi bekerja ke luar negeri,” ungkap Soeran.

Selain itu, juga dikarenakan lembaga pendidikan di masing-masing wilayah, seperti di desa maupun perkotaan agak padat. Baik itu lembaga pendidikan dinaungi Dindik maupun Kementerian Agama (Kemenag).

“Jumlah angka kelahiran turun, tetapi lembaga pendidikannya masih banyak. Otomatis, banyak yang kekurangan pagunya,” katanya.

Selama ini Dindik Ponorogo membebaskan masyarakat untuk memilih menyekolahkan anaknya. SD Negeri di Ponorogo, katanya selama ini juga sudah melakukan banyak inovasi. Mulai dari program, baik intern pembelajaran maupun ekstra ataupun dibidang keagamaan.

“Analisis kita ya jumlah penduduk yang usia sekolah tiap tahun turun dan berkurang. Dulu mungkin usia sekolah besar, jadi pemerintah membangun lembaga-lembaga sekolah. Namun, seiring perkembangannya, usia sekolah berkurang dan lembaga pendidikan masih tetap,” katanya. [end/beq]


Apa Reaksi Anda?

Komentar