Pendidikan & Kesehatan

Potensi Gempa dan Tsunami di Jatim, Begini Kata Ahli Mitigasi ITS

Surabaya (beritajatim.com) – Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) mengeluarkan 3 potensi bencana yang bisa terjadi dan patut diwaspadai, salah satunya adalah gempa berkekuatan 8.9 magnitudo dan tsunami yang bisa setinggi 29 meter terjadi di Jatim.

Menanggapi pengumuman dari BMKG ini, Dr Ir Amien Widodo Msi, selaku peneliti senior dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS mengatakan bahwa potensi gempa tersebut berdasarkan data yang diinput oleh BMKG.

Amin menjelaskan bahwa secara geologi, Indonesia ditekan oleh 3 lempeng (gambar atas) dan bisa diibaratkan tumpukan papan yang ditekan 3 buldoser dari 3 arah, dari Utara, Selatan dan Timur dengan kecepatan 2-7 cm pertahun. Keadaan ini sudah berlansung jutaan tahun lalu sebelum manusia ada.

“Pada batas tumbukan lempeng akan terjadi gempa seperti yang sering terjadi di Samudera Hindia dan kita memang tempatnya gempa, dari skala 1 – 9 dan di kedalaman 1 km – 650 km. Jadi ini sudah jadi pilihan leluhur kita yang sudah bertahan ratusan tahun di Indonesia. Gempa besar yang terjadi di laut bisa memicu tsunami, jadi semua kabupaten di selaran Jatim harus menyiapkan diri terhadap gempa besar dan tsunami,” terang Amien, KamisĀ  (3/6/2021)

Namun kali ini, potensi gempa dan tsunami tersebut menjadi skenario bencana yang serius karena dari data yang didapatkan oleh BMKG bahwa sejak awal tahun hingga Mei lalu, Jawa Timur mengalami gempa kecil kecil terus menerus dan disusul oleh beberapa gempa besar.

“Dalam setengah tahun di Jawa Timur sudah terjadi gempa kecil-kecil itu banyak sekali, hingga Mei saja gempa di Jatim sudah mencapai lebih dari 500 kali terjadi,” ujar Amien.

Frekuensi gempa yang masif terjadi di Jawa Timur menurut Amien disebabkan oleh adanya palung yang berisikan lempengan-lempengan aktif di sekitar 200 km selatan pantai Jatim.

“Jawa Timur itu termasuk seismic gate yang sejak tahun 1900-sekarang terjadi kekosongan tumbukan lempengan yang artinya lempengan yang aktif dan harusnya bergerak secara berkala, namun tumbukan itu tertahan. Terjadinya kekosongan tumbukan inilah yang ditakutkan malah akan menjadi tumbukan yang dasyhat suatu saat nanti hingga menjadikan gempa besar dan memicu tsunami,” terangnya.

Amien pun menambahkan bahwa gempa besar dan tsunami sebesar 7.8 magnitudo pernah terjadi dititik tersebut, yakni di Banyuwangi. Oleh karenanya, Amien mengatakan bahwa daerah pantai selatan memang merupakan langganan gempa, dan kekosongan tumbukan yang terjadi bisa saja berpotensi gempa besar dan tsunami, maka diperlukan sekali mitigasi bencana yang sistematis dari pemerintah.

“Potensi gempa besar dan tsunami yang dikatakan oleh BMKG memang bisa ditelusuri secara sejarah dan polanya, itu memang bisa terjadi karena kita tinggal di atas lempengan yang aktif. Maka yang paling penting adalah mitigasi dan skema penyelamatan dini. Harusnya dengan sejarah gempa 8 magnitudo, mitigasi dan skema evakuasi juga berlandaskan gempa terbesar yang pernah terjadi,”

Ialah dengan menyiapkan sarana prasana dan jalur evakuasi dini, terlebih menurut Amien, gempang berkekuatan 8 magnitudo pastinya akan dapat merontokkan bangunan, maka seharusnya infrastruktur untuk daerag seismic juga harus disiapkan dan disesuaikan dengan itu.

“Seharusnya dengan pengetahuan bahwa kita tinggal di daerah seismic dan sejarah yang begitu besar, kita bisa belajar untuk mitigasi bencana sejak awal. Belajar dari Jepang, meski pada tahun 2006 sama sama dilanda gempa dan tsunami tapi korban mereka jauh lebih sedikit, hal tersebut memungkinkan terjadi karena Jepang sudah menyiapkan negaranya untuk bencana alam, termasuk infrastruktur yang dibuat lebih tahan gempa dan pelatiahan evakuasi reguler yang kemudian menjadi pengetahuan dasar mitigasi bencana,” pungkasnya. [adg/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar