Pendidikan & Kesehatan

Ponorogo Catatkan Rekor, Penambahan 10 Kasus Positif Covid-19 dalam Sehari

Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni

Ponorogo (beritajatim.com) – Kabupaten Ponorogo menempati peringkat kedua dibawah Kabupaten Magetan, dengan pasien terkonfirmasi positif Covid-19 terbanyak di wilayah eks- Karesidenan Madiun.

Pada Rabu (8/7/2020) hari ini, selain ada enam penambahan kasus positif dari pondok modern darusalam gontor (PMDG) 2, ternyata ada empat kasus penambahan lainnya. Sehingga ada 10 kasus penambahan baru. Jumlah tersebut menjadi rekor tertinggi di bumi reyog dalam penambahan kasus Covid-19. “Jadi hari ini ada 10 penambahan pasien positif Covid-19 di Ponorogo,” kata Bupati Ipong Muchlissoni, Rabu sore.

Empat kasus penambahan ini, yakni perempuan berusia 20 tahun, berasal dari Desa Joresan Kecamatan Mlarak. Dia adalah anak dari pasien konfirmasi nomor 46 yang sudah meninggal. Setelah bapaknya meninggal, Dinkes melakukan tracing terhadap kontak eratnya, dan hari ini anaknya tersebut dinyatakan positif.

Kemudian anak perempuan berusia sembilan tahun yang beralamat di Desa Patihan Kidul Kecamatan Siman. Dia adalah anak dari pasien nomor 49, atau bagian dari hasil tracing kasus Ronowijayan.

Selanjutnya, pasien positif baru dari asal Desa Bedrug Kecamatan Pulung. Perempuan 27 tahun ini merupakan petugas CS di Bandara Juanda Surabaya. Sekitar dua minggu yang lalu datang ke Ponorogo. Pada tanggal 3 Juli lalu, melakukan RDT untuk kembali ke Surabaya dan didapatkan hasil reaktif. “Hari ini keluar hasil PCR positif. Saat ini tim satgas sedang melakukan tracing terhadap kontak eratnya,” katanya.

Pasien terakhir yang hari ini dinyatakan positif adalah perempuan 25 tahun asal Desa Lengkong Kecamatan Sukorejo. Yang bersangkutan melakukan pemeriksaan PCR atas permintaan sendiri.

Sebab untuk keperluan pergi ke Papua, dan hasilnya dinyatakan positif. Dengan penambahan 10 kasus positif hari ini, jumlah kumulatif pasien Covid-19 di Ponorogo berjumlah 66 orang. Dengan rincian, pasien yangbsembub ada 32 orang. Sekarang yang menjalani isolasi di rumah sakit 29 pasien. Dan yang menjalani isolasi mandiri di rumah ada dua orang serta pasien meninggal ada tiga orang.

“Dengan kejadian ini, marilah kita semua mengambil pelajaran dan hikmah. Utamanya bagi pesantren-pesantren lain, ternyata rapid test sangat penting untuk dilaksanakan sebagai screening atau deteksi awal,” katanya.

Surat keterangan sehat tanpa disertai rapid test, kata Ipong tidak mampu menunjukkan bahwa terindikasi ada infeksi Covid-19 atau tidaknya dalam tubuh seseorang. Dia menyebut hampir semua penemuan kasus positif diawali dengan rapid test. Jadi penting sekali rapid test bagi siapapun yg datang dari zona merah. “Terbukti ada 80 persen, pasien terkonfirmasi positif di Ponorogo saat ini datang dari zona merah,” pungkasnya. (end/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar