Pendidikan & Kesehatan

POGI Usulkan Tes Swab Gratis untuk Ibu Hamil ke Pemkot Surabaya

Foto:ilustrasi

Surabaya (beritajatim.com) – Banyaknya kasus ibu hamil yang terindikasi Covid-19 tetapi tidak menunjukkan gejala atau OTG. Kondisi itu menjadi perhatian serius bagi dokter spesialis kandungan atau Obgyn.

Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Surabaya mendorong Pemerintah Kota Surabaya untuk memfasilitasi tes swab atau tes PCR Covid-19 pada ibu hamil usia kehamilan 37 Minggu.

Ketua POGI Surabaya, dr Brahmana Askandar SpOG K-Onk mengungkapkan jika ibu hamil datang tanpa membawa data hasil tes Covid-19, pihak rumh sakit akan kesulitan dalam melakukan penanganan karena ditakutkan jika ternyata yang bersangkutan positif Covid-19 tanpa gejala atau OTG sehingga tidak akan berani melakukan penanganan.

“Data mengatakan sebagian besar ibu hamil ini OTG ini sudah positif tapi tidak ada gejala sama sekali. Inilah yang membuat banyak dokter kecolongan,” ujar Dr Brahmana.

“Jika pada kehamilan 37 minggu, belum ada tesnya kemudiam datang ke kamar bersalin pembukaannya sudah 8. Kami tidak punya waktu untuk melakukan test, kan jadi sangat bahaya karena belum ada data, kemudian bercampur dengan pasien lain itu jadi penyulit,” urainya.

Untuk itu POGI mengusulkan saat di puskesmas ibu hamil yang datang pada usia kehamilan 37 harus di tes swab. Sehingga saat bersalin dokter akan tahu status ibu hamil negatif apa positif.

“Kalau di puskesmas sudah menjadi tanggungan pemerintah kota pembiayaannya. Untuk di rumah sakit lain seeprti rumah sakit swasta, harus dipikirkan pembiayaannya. Kami menghimbau ada penanggungan minimal untuk rapid nya,” paparnya.

Brahmana mengungkapkan penting untuk mengetahui status Covid ibu hamil agar langkah preventif pada bayi bisa dilakukan. Agar tidak menyebabkn penularan Covid ke pasien, dokter, bidan, bayi lainnya.

Terpisah, Kadinkes Surabaya, Febria Rachmanita menyatakan siap untuk melakukan kajian atas usulan POGI tentang swab rutin untuk sekrining Covid-19 pada ibu hamil usia 37 minggu.

Tujuannya agar dapat dilakukan rujukan dini berencana ke RS rujukan yang banyak tersebar di Surabaya.

“Ini dapat mencegah rujukan lepas saat emergensi misalnya sudah dalam proses persalinan, ketuban pecah atau kondisi darurat lainnya,” pungkasnya. [adg/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar