Pendidikan & Kesehatan

POGI Adakan Workshop Deteksi Dini Kelainan Spektrum Plasenta Akreta

Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak kurang lebih 32 dokter spesialis Obgyn (kandungan, red) dari 16 Rumah Sakit Pendidikan Dokter se Indonesia hari ini menggelar Workshop Training of Trainer (TOT) Deteksi Dini Kelainan Spektrum Plasenta Akreta yang termasuk dalam rangkaian acar Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) POGI 2019 , Rabu (3/7/2019) di hotel Fairfield Surabaya.

Dihadirkan dalam workshop kali ini sebanyak empat narasumber yakni Prof Dr Erry Gumilar dr SpOG K, Dr Agus Sulistiyono dr SpOG K, Dr Adityawarman dr SpOG K, dan Rozi Aditya dr SpOG. Keempat narasumber tersebut membahas secara mendalam penyakit dalam dunia medis yang juga menjadi salah satu penyumbang tertinggi resiko kematian Ibu Melahirkan yakni Plasenta Akreta.

Plasenta Akreta sendiri merupakan kelainan dalam masa kondisi dimana pembuluh darah plasenta (ari-ari) atau bagian-bagian lain dari plasenta tumbuh terlalu dalam pada dinding rahim. Ini merupakan salah satu masalah kehamilan serius karena bisa membahayakan nyawa penderita.

Di RSUD Dr Soetomo sejak ditemukannya kasus Plasenta Akreta di tahun 2014 lalu terjadi peningkatan yang cukup signifikan. Pada 2014, kasus ini pertama ditemukan dan satu-satunya. Pada 2015 terdapat 7 kasus, 2016 terdapat 24 kasus, 2017 terdapat 60 kasus, 2018 terdapat 71 kasus dan hingga Mei 2019 sudah mencapai 30 kasus.

Menjadi salah satu penyakit yang menyumbang angka kematian ibu melahirkan tinggi di Indonesia. Kasus plasenta Akreta ini harus ditangani dengan tepat dan hanya dengan penanganan sectio Caesarea (operasi caesar, red) untuk menyelamatkan ibu dan bayinya.

Terbilang kasus atau penyakit yang kompleks dan rumit dan baru ditemukan di pada tahun 2014 saat ini para spesialis sedang berupaya untuk melakukan tindakan dan penanganan yang terbaik dan mutahir serta melakukan sosialisasi secara massif kesemua lini medis untuk memastikan ibu hamil beresiko atau pasien untuk terus melakukan kontrol rutin.

“Plasenta Akreta ini pada banyak kasus ditemui pada pasien yang pernah operasi caesar sebelumnya tetapi tidak serta merta yang pernah operasi caesar pasti kena plasenta akreta,” ujar Dr. Adityawarman.

Menurut Dr. Adityawarman riwayat pernah operasi caesar tidak selalu menjadi alasan tetapi memang proses penyembuhan yang berbeda-beda dari pasien yang pernah operasi caesar menjadi penyebabnya. Beberapa pasien operasi Caesar tidak selalu memiliki mekanisme penyembuhan yang sempurna.

Dengan usaha dari POGI atau Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (Indonesian Society of Obstetrics and Gynecology) dalam melakukan penelitian dan sosialisasi yang massif selama tahun 2015, saat ini tingkat kematian ibu dengan kasus plasenta akreta pada tahun 2017-2019 dapat ditekan hingga nol persen. [adg/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar