Pendidikan & Kesehatan

Plt Bupati Mojokerto: Buku sebagai Sumber Literasi Terpercaya

Yayuk Pungkasiadi dikukuhkan sebagai Bunda Baca Kabupaten Mojokerto periode 2019-2022. [Foto: istimewa]

Mojokerto (beritajatim.com) – Meski berdampingan dengan dunia serba digital, buku masih menempati posisi sebagai referensi ilmu yang terpercaya. Hal tersebut disampaikan Plt Bupati Mojokerto, Pungkasiadi dalam acara Pembinaan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial 2019 di Pendopo Graha Maja Tama Pemkab Mojokerto, Jumat (29/11/2019).

“Buku sampai saat ini masih menjadi sumber literasi terpercaya. Meski semua sudah digital sekalipun. Literasi akan terus digenjot hingga desa-desa, melalui media perpustakaan mini. Perpustakaan tidak boleh berhenti sebagai sumber info saja. Tapi harus bisa digunakan untuk berkegiatan, berkreasi, dan berinovasi,” ungkap Plt Bupati Mojokerto, Pungkasiadi.

Orang nomor satu di Kabupaten Mojokerto ini juga menginstruksikan kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Mojokerto, agar tahun depan bisa diadakan kompetisi karya tulis tentang Kesaktian Pancasila. Yakni dengan mengungkit kembali Pendidikan Moral Pancasila melalui kompetisi menulis.

Bunda Baca Provinsi Jawa Timur, Arumi Bachsin Elestianto Dardak yang hadir pada acara ini dan menggaungkan semangat Masyarakat Belajar. Semangat ini menurutnya, diciptakan untuk memotivasi semua lapisan masyarakat agar gemar membaca. Arumi juga mengamini pernyataan Plt. Bupati Pungkasiadi, terkait buku yang dijadikan sumber rujukan informasi yang valid.

“Zaman sekarang memang beda (serba digital). Namun akan selalu ada pro kontra. Kalau kita tidak hati-hati menyaring info digital, pesan utama tidak bisa masuk. Sama halnya seperti kita baca buku novel. Meski jarang ada visualnya seperti gambar, otak kita akan menerjemahkannya sendiri,” katanya.

Ketua TP PKK Provinsi Jawa Timur ini juga membandingkan informasi berbasis viusal, dengan murni membaca yang memiliki plus minus masing-masing. Dalam pandangannya, platform-platform penyedia literasi berbasis digital visual telah memberikan warna baru yang cukup positif. Namun menurutnya mengandalkan visual saja tidak cukup, karena otak bisa kurang maksimal dalam menerjemahkannya secara mandiri.

Sejalan dengan Plt Bupati Pungkasiadi dan Bunda Baca Arumi, Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Muhammad Syarif Bando menyebut buku sebagai media untuk menyelami ilmu secara mendalam. “Dengan literasi kita membangun. Saya setuju dengan Pak Bupati Mojokerto dan Bu Arumi bahwa buku tak tergantikan,” ujarnya.

Berselancar di internet mungkin menjangkau permukaan saja, tapi membaca buku teks. Syarif mencontohkan, sama seperti menyelam ke laut dalam. Syarif memandang paradigma perpustakaan yang mulai sekarang, harus bisa mendampingi masyarakat. Ini terkait inklusi sosial di dalamnya.

“Perpustakaan berbasis inklusi sosial, dimaknai bahwa perpustakaan tersebut bisa memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensinya,” tegasnya.

Pada kesempatan kali ini, dikukuhkan Bunda Baca Kabupaten Mojokerto periode 2019-2022, kepada Wakil Ketua TP PKK Yayuk Pungkasiadi. Pengukuhan dipimpin Kepala Perpustakaan Nasional RI Muhammad Syarif Bando, didampingi Bunda Baca Jawa Timur Arumi Bachsin Elestianto Dardak. [tin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar