Iklan Banner Sukun
Pendidikan & Kesehatan

Cegah Perundungan Anak

Plato Foundation Surabaya Libatkan Siswa dan Media Lewat Program Roots

Direktur Plato Foundation, Dita Amalia saat seminar di Grand Dharmo Suite, Surabaya, Jumat (29/20/2021).

Surabaya (beritajatim.com) – Direktur Plato Foundation, Dita Amalia membeberkan beberapa fakta mengkhawatirkan terkait perundungan terhadap anak.

Melalui seminar yang bertajuk “Penguatan Peran Media dalam Mendukung Prgoram Roots Indonesia Wilayah Jawa Timur”, Dita menjelaskan tingginya angka perundungan di tingkat pelajar.

“Jadi hasil polling yang sudah kita dilakukan pada agen perubahan yaitu remaja yang ada di sekolah penggerak di enam provinsi, yaitu di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, banten, DKI Jakarta dan Jogjakarta itu ternyata sebesar 77,4% terjadi perundungan di sekolah mereka.m,” kata Dita kepada beritajatim.com, Jumat (29/10/2021).

Yang lebih mencengangkan lagi, Dita menyebut bahwa efek buruk tersebut ditemukan data sebanyak 89,8% korban mengalami kesedihan yang mendalam, depresi dan juga menyendiri hingga percobaan bunuh diri gara-gara perundungan itu.

Dita memaparkan bahwa temuan lainnya, di era pandemi ini perundungan lewat media sosial marak terjadi.

“Yang paling banyak, karena pandemi kita menemukan 33% dalam bentuk cyberbullying melalui media sosial dan 31% bullying verbal dan itu menyakiti para korban,” imbuh Dita.

Dalam kategori gender, Dita menjelaskan bahwa pelaku didominasi oleh laki-laki sebanyak 66%, sedangkan korban sebesar 67% merupakan perempuan.

Dita meyayangkan adanya upaya pembiaran terhadap bullying ini di sekolah. Ia menemui kasus dimana guru menganggap persoalan bullying ini bukanlah sebuah permasalahan yang serius. Idealnya adalah pihak-pihak terkait di sekolahan bisa proaktif dan tanggap terhdap permasalahan semacam ini.

Maka dari itu, Dita berharap adanya kolaborasi dengan media untuk menyampaikan kepada masyarakat perihal bahaya bullying bagi anak-anak.

“Saya juga perlu peran media untuk mengubah mindset bahwa perundungan bukanlah hal yang biasa, karena dampaknya sangat luar biasa sekali,” ujarnya.

Salah satu angin segar datang dari Mendikbud, Nadiem Makariem. Mantan pendiri dan CEO gojek itu antusias mendukung program pencegahan perundungan berbasis sekolah yang juga menjadi tanggung jawab pemerintah dan Nadiem menegaskan bahwa bullying merupakan salah satu dosa besar pendidikan yang harus dihentikan.

Selain berkolaborasi dengan Unicef dan Kemendikbud, Plato juga menjalin kerjasama dengan rekan-rekan media dan pemangku kebijakan yang fokus pada isu penanggulangan bahaya perundungan seperti Diknas dan DP3AK.

“Permasalahan ini mejadi pelik karena tidak adanya kesadaran dalam memandang bahaya perundungan pada masalah anak-anak,” ungkapnya.

Apalagi, Dita menganggap aparat belum optimal dalam menindak tindakan bullying dan selama ini cenderung dokus pada pelanggaran Undang Undang ITE pencemaran nama baik di media sosial sehingga kasus-kasus perundungan tidak pernah sampai ke proses hukum.

Dalam hal ini, Plato berfokus pada upaya pencegahan dan penanganan serta pendekatan hukum yang tidak represif terhadap pelaku perundungan.

“Sebenarnya Plato mendorong pada pencegahan dan penanganan. Ketika misalnya anak yang menjadi korban atau anak menjadi pelaku tetap kita rangkul dengan penerapan disiplin, hukumannya itu bukan hukuman sanksi seperti yang tadi diskors atau apa, tapi hukumannya dengan disiplin positif,” tandasnya.(asg/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar