Pendidikan & Kesehatan

Rakor dengan Gubernur Jatim

Pj Bupati Sidoarjo Bahas Sinergitas Program Prioritas Bidang Kesehatan 2021

Sidoarjo (beritajatim.com) – Pj. Bupati Sidoarjo Hudiyono didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sidoarjo Muzayyiningsih Hudiyono mengikuti Rapat Koordinasi Sinergitas Program Prioritas Bidang Kesehatan Tahun 2021.

Rakor tersebut membahas penurunan AKI (Angka Kematian Ibu), AKB (Angka Kematian Bayi) dan stunting Provinsi Jawa Timur. Rapat dilakukan secara Virtual diikuti 19 Kabupaten/Kota, di ruang Command of Operational Center (COC) Pendopo Delta Wibawa, Jumat (22/1/2021).

Turut hadir Kepala Bappeda Sidoarjo, Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo. Acara dibuka dengan paparan dari Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jatim yang menjelaskan program prioritas kesehatan ibu hamil, bayi dan stunting.

Di mana presiden berpesan agar jangan sampai ada stunting kematian bayi dan ibu yang meningkat. Issue prioritas dalam mewujudkan SDM yang berkualitas dengan adanya reformasi sistem kesehatan Nasional.

Penyebab dari kematian ibu disebabkan oleh eklamsi, pendarahan, penyakit jantung, infeksi dan lainnya. Untuk jumlah kematian bayi per tahun sejumlah 3.611. 63% meninggal pada umur 0-6 hari.

Untuk mengatasi AKI, AKB, dan stunting tidak mungkin dilakukan hanya 1 atau 2 OPD. Namun perlu sinergitas dan kerja sama dari banyak OPD. Selain bekerjasama dari OPD juga sudah kerjasama dengan ormas dengan membuat kesepakatan MOU yang diharapkan dapat bersatu dalam percepatan.

Untuk penanganan semua seharusnya dibantu oleh tenaga kesehatan (Nakes). Karena kondisi pandemi, sistem rujukan dihentikan karena dikhususkan untuk Covid-19 sehingga banyak hambatan yang terjadi.
Diharapkan dapat menghidupkan kembali posyandu karena posyandu sangat penting karena pandemi banyak hambatan yang terjadi. Semua itu juga harus tetap menerapkan protokol kesehatan.

Dalam arahannya, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa secara virtual menyampaikan, banyak problem besar yang harus dihadapi mengenai stunting. Pentingnya membangun kesadaran untuk remaja dimana harus menyambungkan dengan BKK bersama-sama menurunkan stunting. Serta bersama-sama membangun sinergitas perlu pendampingan dari PKH dan harus segera menyiapkan SIPD.

Khofifah berharap kabupaten/kota bisa menyinkronkan menjadi bagian pintu masuk SIPD untuk format penganggaran. Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Timur Arumi Dardak, menyampaikan banyak hal yang perlu disiapkan dan dilakukan dalam pencegahan meningkatnya AKI, AKB dan stunting.

“Selama ini sudah berupaya dengan langkah pencegahan sampai intervensi. Mulai melakukan semenjak pertengahan 2020,” terangnya.

Armuni melihat saat ini posyandu banyak yang tutup walaupun sudah menerapkan SOP, banyak kendala yang terjadi saat dilapangan dan secara teknis dilapangan tidak lancar. Istri Wagub Jatim ini berharap dapat diaktifkan kembali adanya posyandu karena posyandu memiliki peran yang sangat strategis di masyarakat.

“Untuk pencegahan AKI, AKB dan stunting, intervensi remaja juga dilakukan dengan kerja sama bersama remaja genre dengan melakukan sosialisasi mengenai kesehatan reproduksi,” urainya.

Arahan dari Gubernur Jatim dan ketua TP PKK Jatim akan segera ditindaklanjuti Pemkab Sidoarjo. Hal itu disampaikan Pj Bupati Sidoarjo Hudiyono selepas mengikuti rakor. Kata Hudiyono isu stunting dan kematian ibu melahirkan memang menjadi prioritas program nasional dalam mewujudkan SDM yang unggul.

Pemkab Sidoarjo sudah siap melaksanakan arahan dari Gubernur Jatim dan ketua TP PKK Jatim. “RSUD Sidoarjo sudah lama menerapkan layanan cepat penanganan ibu melahirkan, ada namanya program Si Maneis (Sidoarjo maternal neonatal emergency System) dimana aplikasi ini memberikan layanan cepat dalam penanganan ibu melahirkan sehingga meminimalkan kematian ibu dan bayi,” pungkas Hudiyono. [isa/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar