Pendidikan & Kesehatan

Phacoemulsifation, Metode Operasi Katarak Modern yang Minim Sayatan

Surabaya (beritajatim.com) – Di Indonesia katarak menjadi salah satu penyakit yang terus mengalami peningkatan. Seiring dengan perkembangan teknologi, penanganan penyakit ini juga mengalami modernisasi. Yang paling mutakhir adalah metode operasi katarak modern yakni fakoelmusifikasi (Phacoemulsification) yang lebih dikenal dengan Metode Phaco.

Metode Phaco ini pun menjadi standard internasional penanganan operasi katarak tetapi belum banyak dimengerti dan diterapkan oleh dokter spesialis mata Indonesia, terutama dokter-dokter di daerah. Saat ini metode Phaco memang telah diterapkan sebatas di kota-kota besar Indonesia.

Oleh karena itu, KMU EDU (Klinik Mata Utama Education) mengambil langkah sebagai instansi yang memberikan kesempatan kepada dokter spesialis mata yang ingin mempelajari teknik atau metode operasi Phacoemulsification.

Direktur Umum KMU EDU, dr. Uyik Unari, SpM(K) mengatakan bahwa KMU EDU telah kontinyu atau berkelanjutan dalam memberikan edukasi terkait metode Phaco ini. Seperti pada Minggu (28/7/2019) KMU menggelar Basic Phaco Workshop Batch 5, di Hotel Shangri-La Surabaya.

“Saat ini, dokter spesialis mata di Indonesia, butuh waktu, tenaga dan biaya ekstra, untuk mendalami operasi dengan teknik phaco ini. Karena harus ke luar negeri, seperti India, Singapore hingga Australia untuk mendapatkan ilmu baru tersebut,” ungkap Uyik.

Diikuti sekitar 30 dokter spesialis mata dari berbagai kota di Indonesia, KMU EDU memberikan pelatihan operasi Phacoemulsifation dengan alat dan objek artificial eye yang sesuai dan mirip dengan mata manusia. Artificial eye ini juga baru pertama kali diterapkan dalam workshop mata di Indonesia.

“Yang mengikuti workshop ini adalah dokter daerah yang belum mengenal teknik phaco ataupun saat lulus kuliah dokter belum sempat mendapatkan pelajaran Phacoemulsifation yang masih baru ditemukan beberapa tahun belakangan ini,” ujarnya.

Terlihat, beberapa dokter dari luar kota seperti Bali, Batam, Semarang, Jakarta hingga Medan yang antusias mengikuti Basic Phacoemulsification Workshop Batch 5. Terlebih lagi setiap dokter yang mengikuti workshop ini akan mendapatkan pendampingan langsung dari staf ahli.

Setiap tahun, kebutaan akibat katarak di Indonesia terus bertambah 0,1 persen. Kurang lebih 250 ribu penduduk Indonesia harus mengalami kebutaan karena katarak. Bahkan di Jawa Timur, angka kebutaan karena katarak mencapai 4,4 persen.

“Jadi harus ada peningkatan kualitas dan upgrade ilmu untuk bisa mengimbangi kemajuan teknologi kesehatan, khususnya mata agar berdampak besar untuk mengurangi angka ini,” sebut Uyik.

Operasi katarak Phaco ini pun memiliki kelebihan dibandingkan dengan metode operasi sebelumnya, atau ECCE yang biasa dikenal dengan operasi katarak konvensional. Yakni pasien akan merasa lebih nyaman dengan operasi ini. Karena tindakannya yang lebih cepat. Yakni kurang lebih 15 menit tanpa dijahit.

Sebab, sayatan pada operasi ini lebih kecil, yakni kurang lebih 3 mm. Sehingga membantu proses pemulihan yang lebih cepat. Terlebih, operasi katarak modern ini sudah diterapkan di luar negeri kurang lebih semenjak 10 tahun yang lalu. Sedang di Indonesia, masih baru-baru ini mendalami. “Karena itu sangat dibutuhkan pelatihan operasi katarak dengan teknik phaco ini,” lanjutnya.

Ia berharap, dokter spesialis mata semakin banyak yang bisa melakukan operasi ini. Sebab, dibandingkan operasi katarak, teknik phaco bisa langsung dilakukan tindakan operasi.

Tidak seperti ECCE yang harus menunggu dahulu hingga mata siap dilakukan operasi. Bahkan untuk pemulihan pasien lebih cepat. Setelah melalui operasi Phaco, pasien esoknya bisa langsung beraktifitas. Tanpa menunggu terlalu lama dan banyak pantangan.

“Harapannya jumlah dokter mata yang bisa melakukan operasi katarak Phaco ini bisa bertambah, mengingat pelatihan ini merupakan workshop yang memiliki Satuan Kredit Partisipatif (SKP),” pungkasnya. [adg/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar