Pendidikan & Kesehatan

Dokter Spesialis Digaji Hingga Rp 70 Juta ke Pulau Terpencil, Siapa Mau?

Surabaya (beritajatim.com) – Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) hari ini melantik sebanyak 91 Lulusan Progam Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), di Aula FK Unair.

Dipimpin langsung oleh Prof Dr Soetojo dr SpU, selaku Dekan FK Unair, 91 Lulusan PPDS tersebut 11 diantaranya adalah PPDS-2 atau Sub Spesialis, dan 80 sisanya adalah PPDS-1. Dalam sambutannya, Prof Soetojo mengatakan bahwa seyogyanya dokter spesialis lulusan Unair harus mengisi setiap jengkal tanah air.

“Lulusan dokter Unair harus mau ke daerah, jangan hanya dikota kota besar. Harus mengabdi ke pelosok diseluruh tanah air ” ujarnya.

Untuk memenuhi harapan mempertipis gap jasa dokter di Indonesia, Prof Soetojo menghimbau agar PPDS-2 lulusan Unair, mau mengikuti Pemberdaya Gunaan Dokter Spesialis (PGDS) program dari Kementerian Kesehatan.

Dalam program PGDS ini, PPDS harus menyelesaikan Sub Spesialis sebagai persyaratannya. Lama program yang ditempuh minimal selama 1 tahun. Program PGDS ini menjadi program pengganti program Kemenkes sebelum yakni WKDS (Wajib Kerja Dokter Spesialis) yang mewajibkan dokter spesialis mengabdi didaerah terpencil.

Bedanya aturan tentang PGDS tidak memuat kata ‘wajib’ tetapi, ada sistem penggajian dan insentif bagi dokter spesialis yang mau ditempatkan di daerah.

“Kalau dulu WKDS ditentang beberapa pihak karena dirasa melanggar HAM, kalau PGDS kan tidak wajib tapi kalau mau gajinya tidak tanggung tanggung, 30 – 70 juta itu hanya untuk gaji duduk,” ujar Prof Soetojo.

Dengan adanya gaji yang layak dan insentif bagi dokter yang mau mengabdi ke daerah diharapkan mampu mengurangi gap atau kesenjangan kemampuan dokter spesialis di Indonesia.[adg/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar