Pendidikan & Kesehatan

Tim Pengabdian Masyarakat Ubaya Gandeng Unair

Peternak Bebek di Mojokerto Dapat Pelatihan Gratis

Pelatihan bagi peternak bebek di Desa Tanjungan, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto. [Foto: istimewa]

Mojokerto (beritajatim.com) – Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Surabaya (Ubaya) memberikan pelatihan kepada para peternak bebek di Desa Tanjungan, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto. Pelatihan diberikan dengan menggandeng Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair).

Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Peternak Bebek Berbasis Pemberdayaan Masyarakat tersebut mendapatkan suport pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Dalam kegiatan tersebut diharapkan para peternak bisa mencari sumber pakan secara lokal di tengah mahalnya pakan produksi pabrik.

Pembicara dari FKH Unair, Dr drh Abdul Samik mengatakan, beternak bebek memiliki potensi bisnis besar. “Kandungan gizi bebek bagus dan tidak ada halangan bagi umat Islam untuk mengembangkan bisnis peternakan bebek. Proyeksi panen bebek bisa diatur seperti pada ayam potong,” ungkapnya, Kamis (17/10/2019).

Berbagai sumber pakan bisa didapatkan secara lokal, seperti becikot yang mudah didapatkan. Sehingga para peternak dituntut harus kreatif mencari sumber-sumber pakan berbahan lokal yang bisa jadi alternatif, sehingga dapat menggantikan pakan buatan pabrik yang harganya lebih mahal.

“Pakan bebek produksi pabrik kian mahal seiring makin tinggi kadar proteinnya. Sementara pakan berbahan lokal yang berkualitas dan harganya murah juga berlimpah. Pemberian pakan harus diatur, sehingga produktivitas telur bisa maksimal. Kalau bebek terus makan, jadi kegemukan, malah tidak mau bertelur,” katanya.

Manajemen pakan yang tergantung pada alam sepenuhnya juga dinilai kurang baik. Salah satu peternak binaan Ubaya di Desa Tanjungan, Riono mengaku, para peternak bebek mampu menghasilkan 130 telur per hari. “Harga telur bebek per butir Rp2.200, dijual ke tangan pengepul,” ujarnya.

Masih kata Riono, usaha ternak bebeknya dimulai sekitar 10 tahun lalu dengan modal awal Rp17 juta. Modal tersebut bukan murni uangnya, namun dari pengepul pembeli bibit telur sehingga dia tidak bisa menjual telur tersebut keluar meski harga di luar lebih tinggi.

“Yang ambil telur-telur ini, orang Sidoarjo tiap enam hari sekali. Kalau ditetaskan, butuh waktu 27 hari dierami. Setelah menetas, anak bebek umur dua hari bisa dijual Rp8 ribu per ekor. Kendalanya, kami belum punya mesin penetasnya. Bebek-bebek ini juga tidak stabil menghasilkan telur,” tuturnya.

Saat hujan atau kondisi kandang becek maka produksi telur turun, bahkan saat mood pemilik jelek juga mempengaruhi. Perubahan cuaca serta suara-suara aneh turut memengaruhi. Karena beberapa penyebab itu, produksi telur per hari yang pernah mencapai 140 butir kini turun menjadi 110 butir per hari.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Tanjungan, Suparlik berterima kasih kepada Tim Pengabdian Masyarakat Ubaya. “Beternak bebek sudah biasa, tetapi cara yang apik (untuk beternak) itu harus diketahui. Ini penting bagi para peternak bebek,” tegasnya. [tin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar