Pendidikan & Kesehatan

Peserta JKN-KIS di Banyuwangi Masih Rendah

Banyuwangi (beritajatim.com) – Kepala BPJS Kesehatan Banyuwangi, Wahyu Santoso mengatakan, cakupan kepesertaan JKN-KIS sendiri di Banyuwangi masih cukup rendah. Per Juli 2019, dari total jumlah penduduk yang 1,7 juta jiwa, masih 51,2 persen atau 887.448 jiwa yang menjadi peserta JKN-KIS.

“Itu berarti masih harus terus disosialisasikan penambahan kepersertaan ini. Itulah kami mengajak toga dan tomas untuk menyukseskan program ini,” kata Wahyu, Sabtu (27/7/2019)

Wahyu menjelaskan BPJS mengajak masyarakat untuk menjadi peserta JKN – KIS secara aktif. Salah satunya dengan mengajak tokoh agama dan tokoh masyarakat.

“Jangan menunggu sakit dahulu, baru kita mengurus. Kalau bisa walau kita sehat, kita tetap mengikuti program ini. Dengan menjadi peserta, maka kita menghidupkan budaya gotong royong, dimana kita yang sehat membantu yang sakit, yang muda membantu yang tua, yang mampu membantu yang kurang mampu,” ungkapnya.

Selain itu, untuk terus menggelorakan hidup sehat BPJS Banyuwangi juga mengajak mengajak masyarakat mengikuti program jaminan kesehatan nasional (JKN). Salah satunya dengan menghadirkan Brand Ambassador BPJS Kesehatan Tahun 2019, atlet binaraga nasional Ade Rai.

Sementara itu, Bupati Anas mengapresiasi BPJS yang menggelar sosialisasi dengan melibatkan tiga dan tomas. Menurut dia, peran mereka yang bersinggungan langsung dengan masyarakat akan memudahkan penyebaran informasinya.

“Toga dan tomas ini punya peran penting di masyarakat. Pemkab sendiri telah melibatkan tokoh masyarakat untuk menyukseskan program daerah,” kata Anas.

Dalam kesempatan itu, Anas berpesan kepada toga dan tomas untuk berperan aktif mendorong gaya hidup sehat di masyarakat. Bahkan, lanjut dia, pemkab telah gencar mendorong puskesmas menjadi mal orang sehat.

“Puskesmas harus menjadi mal orang sehat. Jadi orang ke Puskesmas bukan hanya pas sakit, tapi juga ketika sehat harus kontrol ke puskemas agar terus sehat,” ujar Anas.

Selama ini, lanjut Anas, paradigma pengelolaan kesehatan masih berkutat pada ‘paradigma sakit’. Hal itu didorong kebiasaan warga yang baru ke fasilitas layanan kesehatan hanya ketika sakit saja. Sehingga anggaran banyak tertuju ke pelayanan rujukan yang berorientasi ke pengobatan, bukan pencegahan.

“Berapa pun anggaran yang disiapkan BPJS maupun pemerintah, namun bila upaya preventif tidak dilakukan, maka akan jebol juga dananya. Untuk itu, kami minta toga dan tomas bisa membantu kami menyosialisasikan gaya hidup sehat di kalangan warga,” pungkasnya. [rin/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar