Pendidikan & Kesehatan

Cegah Covid-19

Pesantren Tebuireng Terapkan 3M Secara Ketat

Posko cek point yang ada di gerbang pondok pesantren Tebuireng Jombang,

Jombang (beritajatim.com) – Pondok pesantren (Ponpes) Tebuireng Jombang menerapkan 3M (menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak) secara ketat. Tujuannya, untuk mencegah dan memutus rantai penyebaran covid-19.

Setiap santri yang melakukan aktivitas diwajibkan mengenakan masker. Nah, ketika ada yang melanggar ketentuan tersebut, maka diberi sanksi membaca Alquran sebanyak satu juz. “Bagi yang ketahuan tidak memakai masker, maka setelah subuh disanksi membaca Alquran satu juz,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Pesantren Tangguh Tebuireng Nur Hidayat ketika dihubungi melalui ponselnya, Kamis (1/10/2020).

Upaya itu dilakukan, lanjut Nur Hidayat, untuk meningkatkan kesadaran santri tentang pentingnya menerapkan protokol kesehatan. Selain itu, santri Tebuireng juga diminta melakukan cuci tangan menggunakan sabun sesering mungkin.

Oleh karena itu, tempat cuci tangan disiapkan di sejumlah titik. Di antaranya, di depan asrama santri, di tempat strategis, serta di gerbang masuk pesantren. Sedangkan untuk menghindari kerumunan, jumlah penghuni asrama juga dikurangi.

“Sebelum pandemi, satu kamar berisi 20 hingga 28 santri. Namun saat ini dikurangi hingga 60 persen. Hal itu dilakukan guna menjaga jarak dan mencegah kerumunan. Kami juga melakukan pengetatan larangan sambang (menjenguk santri) oleh wali santri,” ujarnya.

Sebagai gantinya, jika wali santri rindu anaknya, bisa menghubungi melalui panggilan video (video call). Untuk itu, masing-masing kamar ada fasilitas smartphone yang digunakan untuk video call tersebut. Hal itu penting dilakukan agar santri menjaga kontak langsung dengan dunia luar.

Salah satu santri menunjukkan surat hasil rapid test kepada pengurus pesantren Tebuireng Jombang, Senin (20/7/2020)

“Kami memahami besarnya kerinduan wali santri terhadap anaknya, terutama santri baru yang mulai mondok pada 30 Agustus lalu. Tapi demi keselamatan bersama, protokol kesehatan harus dipatuhi semua pihak,” mantan Wakil Sekretaris PWNU Jatim ini.

Deteksi dini ini penting dilakukan, mengingat potensi penyebaran virus di lingkungan pesantren juga masih mungkin terjadi. “Perkembangan global dan nasional selama enam bulan terakhir membuktikan, siapapun bisa kesenggol virus ini. Jadi deteksi dini terhadap gejala khusus yang mengarah merupakan langkah penting dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” tegas pria berkacamata ini.

Selain menerapkan 3M secara ketat, dalam seminggu terakhir, Pesantren Tebuireng telah mengkarantina ulang beberapa santri yang memiliki gejala khusus dan mengarah serta memberikan treatment untuk pemulihan mereka. “Tapi, sejauh ini tidak satupun santri yang terkonfirmasi positif,” tandasnya.

Pesantren juga melakukan uji cepat antigen kepada seluruh warga pesantren untuk mendeteksi ada tidaknya warga pesantren yang kesenggol virus ini. Uji cepat antigen diyakini memiliki validitas sekitar 90% dalam mendeteksi keberadaan Covid-19. “Dengan ikhtiar dan taqarrub maksimal, semoga seluruh warga pesantren dijauhkan dari wabah ini,” harapnya. [suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar