Pendidikan & Kesehatan

Perpustakaan Merah Putih Untag Surabaya Pertahankan Akreditasi A

Surabaya (beritajatim.com) – Perpustakaan Merah Putih Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya yang kembali meraih akreditasi A setelah serangkaian asesmen. Perpustakaan Merah Putih melalui visitasi akreditasi secara daring pada Jumat, (14/8) yang dibuka langsung oleh Rektor Untag Surabaya-Dr. Mulyanto Nugroho, MM., CMA., CPA. 3 asesor dari Lembaga Akreditasi Perpustakaan Nasional (LAP-N) yang melakukan visitasi secara daring yakni Dra. Sri Sularsih, M.Si., Drs. Bambang Supriyanto, M.Si dan Drs. Bambang Supriyo Utomo, M.Lib.

Saat ditemui di ruangannya, Kepala Perpustakaan Merah Putih-Bambang Agustono, SH., MH. mengaku bersyukur atas capaian tersebut. “Dari semangat teman-teman, ini adalah keberhasilan tim karena kinerja dan kerjasama tim berjalan dengan baik,” katanya. Dia menjelaskan, semua lembaga dengan perpustakaan harus melakukan Akreditasi Perpustakaan sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang No. 43 tahun 2007.


Masa pandemik Covid-19, visitasi akreditasi ini diadakan secara online, selain menggunakan daring, semua berkas penilaian dan saran dari asesor dikirim melalui e-mail. Proses akreditasi sempat tertunda kurang lebih 3 bulan, “2017 lalu kita sudah A yang berlaku hanya 3 tahun, jadi 19 Mei kemarin seharusnya sudah berakhir. Karena pandemi ini Perpusnas menutup akreditasi, hanya registrasi terlebih dahulu. Dan baru dilakukan pada tanggal 14 ini” jelas Bambang

“Ketersediaan koleksi bisa memenuhi atau tidak. Di Perpustakaan kita menurut asesor sudah 2:1, jadi 1 judul bisa dipakai 2 orang,” tutur Bambang. Menurutnya, akreditasi ini juga turut menunjang asesmen bagi program studi maupun Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi.

“Yang dinilai, jumlah koleksi, pengunjung, jumlah pustakawan, peminjaman buku serta ketersediaan buku sesuai kurikulum prodi. Kunci ketersediaan ilmu adalah buku, apalagi kita lembaga pendidikan” tambahnya.

Proses pengembangan dan inovasi akan terus diupayakan untuk bisa menjadi fasilitas serta pendukung aktif dalam menimba ilmu. Sesuai saran dari asesor, sebagai Kampus Kebangsaan, perpustakaan merah putih ini diupayakan untuk menambah koleksi buku sejarah, jurnal penelitian bertemakan nilai-nilai kebangsaan.

“Menurut asesor perpustakaan kita sudah representatif, hanya saja karena sekarang sudah era milenial, nuansanya masih cenderung ke warna klasik, mungkin bisa diubah jadi warna yang menarik,” imbuhnya.

Bambang dan timnya berharap program kerja yang telah tersusun seperti membuat Pojok Kultur Budaya. “Kalau sekarang kan ada baju daerah dan wayang, menurut mereka (asesor) kurang. Yang diserukan adalah pariwisata dan budaya karena kita Kampus Kebangsaan,” paparnya.

Di samping itu juga akan mencoba mengembangkan Perpustakaan Digital. “Situasi sekarang orang mau belajar ke perpustakaan kadang susah, harus dibatasi, harus physical distancing dan segalanya. Planning ke depan ingin perpustakaan digital terus berjalan, karena ke depan yang dicari adalah digital bukan konvensional.” tutup Bambang. [adg/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar