Pendidikan & Kesehatan

Perjuangan Dr Zakiy Jadi Penyitas Covid, Ujian Proposal Dokter Spesialis di Ruang Isolasi

Dr Zakiy saat ujian proposal dokter spesialis di RIK

Surabaya (beritajatim.com) – Semangat belajar dan mengabdi menjadi support terbesar  Muhammad Zakiy Muntazhar. Menjadi Peserta Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Bedah Toraks dan Kardiovaskular (BTKV) di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) meski Covid-19 telah menyebar dan menjadi pandemi, ia tetap tanpa gentar mengabdi dan tekun belajar sebagai PPDS yang bertugas di RSUD Dr Soetomo.

Setiap hari ia masih berjaga, melayani dan belajar di departemen paru di RSUD Dr Soetomo seperti hari hari biasa, tidak ada yang spesial, selain hiruk pikuk tantangan ilmiah tentang virus baru yang tiap hari masih harus dipelajari, yang berbeda hanya penggunaan APD mulai menjadi kewajiban.

Selebihnya sama, ia masih melayani pasien bersama dokter senior dan belajar dari praktik kesehariannya di RSUD Dr Soetomo, ngobrol dan menghabiskan waktu bersama sejawat di waktu luang juga masih hal yang biasa dilakukan.

Sekitar Mei 2020, pertama kali kebijakan skrining kesehatan di RSUD Dr Soetomo pun dilakukan, terutama bagi tenaga kesehatan (nakes) yang akan melakukan tindakan di ruang operasi.

Pertengahan Juni, pria yang akrab disapa Zakiy ini mendapat jadwal ikut serta dalam tindakan operasi paru. Langkahnya pun mantab untuk ikut serta sebagai tenaga medis dalam operasi bedah paru, tatapannya yakin saat melangkah masuk ke ruang skrining swab khusus nakes, karena saat itu ia tidak merasakan ada yang ganjal atas kesehatan dirinya. Berselang satu hari, hasil tes swab pun keluar.

“Ya saat itu yakin saja waktu disuruh ikut skrining swab, saya tidak merasa sakit atau ada gejala dan keluhan apapun. Sehat-sehat saja, tapi ternyata hasilnya terdeteksi virus dan dinyatakan positif,” kenang Zakiy.

Khawatir seketika menyeruak, beberapa bayang ketakutan sekelebat muncul, meski demikian ia seketika itu juga melapor ke Fakultas dan Rumah Sakit atas kondisi terkini dirinya, kemudian kembali ke rumah kost, mengambil sedikit baju bersih yang tadi pagi ia ambil dari binatu, menyiapkan laptop dan buku penunjang lainnya untuk dibawa ke Ruang Isolasi Khusus (RIK) RSUD Dr Soetomo. Sempat tidak berani menceritakan kondisinya saat itu kepada keluarga, akhirnya malam itu Zakiy menelepon Sang Ibu saat berada di RIK.

“Saya tidak beritahu Bapak karena sudah sepuh, jadi saya memutuskan beri tahu Ibu saja yang istilahnya itu lebih gak gampang syok. Ya meski demikian Ibu saya juga tetap khawatir, sedih, takut apalagi saat itu ada kawan sejawat yang meninggal juga karena Covid. Campur-campur lah perasaannya, wong saya juga khawatir saat itu. Ini kan penyakit baru, belum ada vaksin dan obat otentiknya. Penyakit ini tidak bisa diremehkan, banyak kawan kawan OTG yang tiba tiba drop. Jadi saya juga khawatir. Cuma ya sudah dijalani saja, tawakal terus semangat sembuh,” kenang pria kelahiran Gunung Kidul, 20 November 1988 ini.

Dr Zakiy kedua dari kiri, setelah sehat kembali sebagai penyitas Covid, kembali menangani pasien operasi paru

Zakiy pun mengaku tidak tahu bagaimana asal mula dirinya terpapar Covid-19. Ia mengatakan bahwa saat itu memang sedang banyak banyaknya PPDS yang terjangkit. Meskipun dirinya tidak praktek di RIK tetapi ia mensinyalir transmisi virus bisa saja terjadi dari IGD maupun sejawat PPDS yang OTG.

“Ya saat itu memang sedang banyak PPDS yang terjangkit, barengan saya saat itu setidaknya ada 60 an PPDS. Meskipun saat itu sudah digunakan APD  dan saya tidak di RIK, tapi kemungkinan besar dari  IGD atau sejawat yang OTG,” tukasnya.

Berbarengan dengan Zakiy, PPDS lainnya saat itu juga banyak yang terjangkit. Namun tidak semua dirawat di RIK, ada yang isolasi mandiri di rumah masing masing.

“Yang barengan sama saya saat itu sekitar 15 PPDS dirawat di RIK, rata ratanya OTG,”  katanya.

Zakiy pun dirawat bersama pasien Covid-19 lainnya, bekal ilmu sebagai tenaga medis membuat Zakiy terus berfikir positif dan menerapkan beberapa latihan kecil seperti fisioterapi pernafasan, olah raga ringan, dan konsumsi nutrisi yang cukup selama menjadi pasien Covid-19. Ia tidak mau terlarut dalam kekhawatiran. Lima hari berada di RIK, Zakiy kembali di swab dengan hasil masih positif, meski begitu ia tidak patah semangat, segela hal dilakukan agar imunitas semakin membaik dan segera dinyatakan negatif.

Menariknya, Zakiy yang saat itu telah mendapat jadwal untuk ujian proposal untuk ujian akhir untuk meraih gelar dokter spesialis pada tengah Juni sehingga ia pun harus melakukan ujian di dalam  bangsal RIK pada hari ke tujuh. Berbekal laptop, ujian pun dilakukan di dalam bangsal RIK.

Mengetahui salah satu PPDSnya menjalani ujian di bangsal RIK, Dekan FK yang saat itu dijabat oleh Prof Soetojo Wirjopranoto, mengapreasisi semangat Zakiy dengan mengadakan pertemuan daring bersama Rektor Prof Nasih. Saat pertemuan daring tersebut, Prof Tojo menyeletuk, “Loh kamu anak mana? Mahasiswa Unair apa UGM?”

Rupanya, Zakiy saat itu tidak sadar memakai kaos bertuliskan UGM, sontak membuat para petinggi Unair penasaran.

“Iya Prof, maaf saya tidak ada baju lagi, berangkat ke RIK cuma bawa baju dari laundry dan itu cuma sedikit, sekarang sudah habis jadi saya tidak sadar pakai baju almamater S1. Maaf Prof salah kostum,” kisah Zakiy.

Salah kostum Zakiy ternyata menyentil hati dosen-dosen FK Unair, salah satu dosen FK, dr Eighty Mardian Kurniawan Sp OG pun berinisiatif membuatkan kaos bagi PPDS penyitas Covid-19, sebagai bentuk penyemangat dan dukungan untuk selalu sehat.

3 hari setelah ujian proposal Pendidikan Dokter Spesialis, Zakiy pun di swab untuk ke 3 kalinya dan hasilnya tetap negatif. Pihak FK pun melalui dr Eighty, memberikan fasilitas kepada Zakiy dan sejawat PPDS yang terinfeksi Covid untuk melakukan isolasi mandiri di rumah singgah yang telah disediakan oleh FK.

Hari itu juga, setelah hasil swab ke tiga keluar, Zakiy pindah ke rumah singgah yang telah disediakan dr Eightydan FK untuk melakukan isolasi mandiri. Isolasi mandiri di rumah singgah yang disedikan FK, membuat Zakiy lebih tenang, kamar luas dan bersih dengan kamar mandi dalam terasa seperti di hotel. Makan pun terjamin, Zakiy mendapat kiriman makanan penuh nutrisi sebanyak 3 kali sehari, buah buahan, susu dan suplemen.

Rumah singgah itu ditempati sekitar 10 PPDS FK yang terjangkit Covid-19 OTG saat itu, masing masing berkamar pribadi. Sesekali mereka berpapasan saat menikmati udara bebas di rooftop rumah singgah. Bertemu dengan satu dua sejawat PPDS, Zakiy mengatakan bahwa meski beberapa kali bertemu dengan sejawat, tetapi mereka tidak berlama lama dan tetap menjaga jarak.

“Ya ketemu beberapa kali di rooftop, tapi kami ya tahu diri, tidak lama lama, tidak dekat dekat. Jaga jarak sekali pokoknya, takut menulari dan saling tertular. Nanti ndak selesai selesai virusnya,” ujar Zakiy.

Saat di rumah singgah, Zakiy dan sejawat PPDS  lainnya difokuskan untuk membangun imun yang lebih baik, meski tidak mengkonsumsi obat, PPDS disana digenjot asupan nutrisi dan diberi kenyaman agar tidak stress. Setelah lima hari isolasi mandiri dengan suasana yang nyaman, Zakiy pun kembali di tes swab dan walhasil negatif.

Ia pun segera kembali ke rumah kos dan seminggu kemudian bekerja kembali sebagai PPDS aktif. Tengah September 2020 pun akhirnya Zakiy pun dilantik menjadi dokter spesialis paru. Seperti biasa, saat ini Zakiy melangkah mantab pengabdikan diri demi kesehatan dan keselamatan umat manusia, dr Muhammad Zakiy Muntazhar tidak gentar merawat pasien di tengah pandemi, tidak ada lagi ketakutan, semua dijalani dengan tawakal dan tetap waspada.

“Tidak ada perbedaan sekarang, yang penting tetap waspada, APD selalu menjadi prioritas, selebihnya ya sewajarnya. Terlepas dari pekerjaana saya dokter, saya pun selalu ingat pesan ibu, pakai masker, jaga jarak, dan selalu cuci tangan pakai sabun,” pungkasnya. [adg/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar