Pendidikan & Kesehatan

Perjalanan Panjang Unair Penelitian Obat dan Vaksin Anti Virus Covid-19

Surabaya (beritajatim.com) – Penelitian tentang Covid-19 terus dilakukan oleh Universitas Airlangga (Unair). Termasuk penelitian tentang Vaksin Virus Covid-19.

Juru Bicara Penelitian Covid-19 Unair Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih M.Si yang juga Wakil Rektor (Warek) 1, mengatakan bahwa penelitian Unair fokus pada 3 kajian. Tiga kajian tersebut adalah Penelitian tentang kombinasi obat dan efektivitas, Penemuan Obat Pengembangan Baru, dan Pembuatan Vaksin.

Penelitian Kombinasi Obat dan Efektivitas ini merupakan penelitian tentang obat obat yang sudah ada, kombinasinya dan efektivitasnya.

“Jadi kita meneliti obat yang sudah ada seperti Avigan, Cloroquin, dan obat lainnya. Membuat kombinasi lainnya serta melihat bagaimana efektivitasnya terhadap Covid-19. Apakah efektiv untuk membunuh virus Covid-19 atau bagaimana,” ujar Prof Nyoman, Jumat (8/5/2020).

Untuk penemuan Obat Pengembangan Baru, Prof Nyoman mengatakan bahwa saat ini telah dalam tahap uji preklinis.

“Uji preklinis ini adalah uji toksisitas. Kita melihat apakah obat ini mampu melawan virus ataukah malah menjadi toksin yang menyerang tubuh. Penelitian ini setidaknya membutuhkan waktu 1 tahun,” terangnya.

Sedangkan untuk pembuatan Vaksin, ia mengatakan bahwa saat ini melalui Intitute Tropical Disease (ITD), Unair telah temukan enam varian baru whole genom pada 20 sampel pasien positif di Jawa Timur. Whole genom merupakan hasil dari Sequence RNA virus dari Covid-19 yang memungkin untuk melihat keaslian genetik dari virus.

Penelitian mengenai vaksin ini membutuhkan waktu sangat lama, setidaknya 2 tahun. Karena pembuatan vaksin merupakan penelitian dan proyek jangka panjang yang rumit dan membutuhkan alat yang sangat memadai.

“Ya ini adalah penelitian jangka panjang, butuh setidaknya 2 tahun. 1 tahun untuk penelitian virusnya, 1 tahun untuk uji pre klinis dan uji klinis. Bayangkan saja, kita harus mengumpulkan whole genom setidaknya dari seluruh wilayah Indonesia, kemudian kita harus uji pre klinis lalu menguji cobakan ke manusia, sesuai kategori umur dan jenis kelamin. Tentunya ini perjalanan yang panjang,” tukasnya. [adg/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar