Pendidikan & Kesehatan

Peralihan Musim, Dinkes Bojonegoro Waspada Demam Berdarah

Bojonegoro (beritajatim.com) – Penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD) mulai perlu diwaspadai selama musim peralihan. Sejak pergantian musim dari kemarau ke musim hujan hingga memasuki musim hujan nyamuk pembawa virus aedes aegypti mulai menyebar.

“Mulai dari musim peralihan sampai musim hujan, merata perlu diwaspadai penyebaran demam berdarah dengue,” ujar Humas Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bojonegoro, Fitri Munira Pitaloka, Kamis (7/11/3019).

Hingga Oktober 2019, kasus demam berdarah sudah terjadi sebanyak 404 kasus dengan jumlah korban meninggal sebanyak 7 kasus. Sedangkan pada 2018, jumlah kasus demam berdarah sebanyak 589 kasus dengan kasus kematian sebanyak 12 penderita.

Untuk mengantisipasi penambahan jumlah kasus demam berdarah itu maka, pihaknya mengaku telah melakukan langkah antisipasi melalui gerakan serentak satu rumah satu jumantik (juru pemantau jentik). Gerakan tersebut merupakan keterlibatan masyarakat berbasis keluarga. “Selain itu juga pemberian penyuluhan dari Puskesmas kepada masyarakat terkait upaya-upaya pencegahan yang dapat dilakukan,” terangnya.

Sekadar diketahui, pada 2018 jumlah kasus DBD meningkat jika dibanding dengan tahun 2017 yang hanya ada 278 kasus. Empat kecamatan di Kabupaten Bojonegoro dengan jumlah kasus DBD tertinggi yakni Kecamatan Tambakrejo, Kecamatan Kepohbaru, Kecamatan Sumberrejo, dan Kecamatan Padangan. “Dengan datangnya musim hujan ini, maka warga perlu waspada dengan menjaga lingkungan dari potensi yang menyebabkan DBD,” imbaunya.

Anggota SPEAK (Suara Perempuan Penggerak Komunitas) Bojonegoro Lilis Aprilliati berharap agar Pemerintah Kabupaten Bojonegoro cekatan membaca dan mengatasi ancaman DBD ini. Pemkab, lanjut perempuan yang juga menjabat Ketua KOPRI PMII Bojonegoro ini berharap Pemkab Bojonegoro punya strategi pengendalian DBD yang efektif.

Diantaranya dengan cara memberikan edukasi dan meningkatkan kesadaran warga terkait ancaman dan upaya-upaya pencegahan DBD, serta memaksimalkan kader Jumantik (Juru Pemantau Jentik) yang sudah ada di desa-desa, maupun melibatkan kelompok lain yang memungkinkan, serta menjalin kolaborasi dengan para pihak.

“Belajar dari kasus DBD di tahun-tahun sebelumnya, Pemkab, utamanya Dinkes perlu lebih memaksimalkan upaya preventif dalam pengendalian kasus DBD di Bojonegoro, agar angka DBD tahun ini setidaknya tidak mengalami peningkatan atau bahkah mempunyai target penurunan dari angka 589 Kasus sebagaimana di tahun 2018,” pungkasnya. [lus/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar