Pendidikan & Kesehatan

Penerapan PSBB Berhasil Turunkan Konsentrasi NO2 Secara Signifikan

Guru Besar Bidang Biologi Tanah dan Ekologi Perakaran Universitas Brawijaya, Malang, Prof. Dr. Ir. Kurniatun Hairiah.

Malang (beritajatim.com) – Guru Besar Bidang Biologi Tanah dan Ekologi Perakaran Universitas Brawijaya, Malang, Prof. Dr. Ir. Kurniatun Hairiah menyebutkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang bertujuan menekan penyebaran virus corona Covid-19 di beberapa daerah di Indonesia telah menurunkan konsentrasi NO2 secara signifikan. Dengan menurunya konsentrasi NO2 membuat terjadinya peningkatan kualitas udara di beberapa daerah, seperti di Jakarta.

“Efek PSBB ini membuat langit di beberapa daerah di Indonesia kembali berwarna biru. Hal ini tentunya karena pada umumnya pandemi COVID-19 banyak terjadi di daerah dengan tingkat polusi udara yang tinggi,” katanya, Jumat, (8/5/2020).

Kurniatun menjelaskan bahwa berdasarkan data dari WHO pengurangan jumlah traffic di beberapa daerah seperti di Wuhan Cina 11 juta orang yang terkena lockdown, menurunkan konsentrasi NO2 secara signifikan. “Berdasarkan peta satelit, efek Lockdown bisa dilihat pada perbedaan warna langit pada pada bulan Januari dan Februari. Jika pada Januari warna langit berwarna oranye atau merah maka pada bulan Februari warnanya langit sudah menjadi biru,” imbuhnya.

Di satu sisi, dampak lockdown dan pembatasan sosial akibat Covid-19 menyebabkan terjadinya penurunan pertumbuhan ekonomi. Pembatasan Sosial di beberapa daerah menyebabkan terjadinya pengangguran besar-besaran di kota. Sedangkan di desa masyarakat biasanya bisa bertahan meskipun produksi pertanian menurun dengan mencari pekerjaan di kota. Namun saat ini di kota juga terkena pembatasan sosial. Sehingga membuat masyarakat juga tertekan.

“Ditambah lagi, saat ini bantuan pemerintah untuk pertanian lebih banyak digunakan untuk penanganan Covid-19. Dalam hal ini, untuk mendukung ketahanan pangan selama masa pandemic Covid-19 pemerintah perlu memperketat pengawasan terhadap penimbunan bahan pokok dan pendistribusian pangan secara merata hingga ke daerah terpencil serta menjaga stabilitas harga pangan. Untuk menjaga stabilitas pertanian berkelanjutan diperlukan sebuah kebijakan untuk melindungi rumah tangga pertanian, seperti dengan memutus rantai bisnis dengan tengkulak,” paparnya.

Senada dengan Kurniatun Hairirah, Wakil Dekan Bidang Akadmik Fakultas Pertanian (FP) Sujarwo, mengatakan bahwa peran pemerintah dibutuhkan untuk menjaga ketahanan pangan nasional. Menurutnya, ketahanan pangan tidak bisa diserahkan hanya pada masyarakat tapi juga ada peran pemerintah. Peran pemerintah bisa dilakukan contohnya dengan membeli hasil panen petani pada bulan Maret hingga Mei ataupun memanfaatkan hasil pada sektor perikanan yang biasanya didistribusikan untuk ekspor.

“Proyek kemanusiaan untuk menjaga ketahanan pangan nasional harus dilakukan di semua sektor, baik pada bidang perikanan, peternakan, ataupun pertanian. Pemerintah harus membeli hasil panen warga dan bukan sektor swasta. Hal ini untuk semata mata untuk menjaga pendistribusian pangan di seluruh wilayah Indonesia,” tandasnya. (luc/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar