Pendidikan & Kesehatan

Penderita Gangguan Jiwa Tekuni Kerajinan Batok Kelapa, Omzetnya Puluhan Juta

Kediri(beritajatim.com) – Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) ternyata bisa mandiri. Bahkan, mampu menghasilkan karya seni bermanfaat dan bernilai ekonomis. Hal ini dibuktikan oleh Turmuji, warga Desa Sonorejo, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri.

Pria 29 tahun ini divonis mengalami gangguan jiwa. Dia kerap mengamuk dan membahayakan para tetangga. Tetapi, setelah menjalani perawatan rutin melalui Posyandu ODGJ di Balai Desa setempat, kondisi kejiwaanya berangsur stabil. Bahkan, tenaga medis yang merawatnya menyatakan Turmuji sudah masuk fase mandiri.

Turmudi kini menekuni usaha pembuatan kerajinan dari bahan batok kelapa dan kayu. Kedua bahan tersebut disulap menjadi aneka peralatan dapur seperti sendok nasi dan mangkuk yang unik. Turmudi memproduksi karya kriyanya ini di rumah milik orang tuanya di Desa Sonorejo.

Peralatan yang digunakan cukup sederhana yaitu, mesin pompa air yang dimodifikasi sebagai bahan pemotong batok kelapa maupun kayu serta penghalus. Turmuji mampu memproduksi barang tersebut hingga 1000 buah per-bulannya dengan omzet mencapai jutaan rupiah.

Hasil karya Turmudi ini biasanya dipasarkan untuk wilayah Kediri, dan sebagian ke Jawa Tengah dan Jawab Barat. Dia memasok beberapa toko penjual barang unik. Katanya, kini jumlah permintaan sangat tinggi, sementara kapasitas produksinya sedikit, sehingga tidak mampu memenuhi pasar.

“Saya dapatkan ilmu pembuatan kerajinan ini dari Malang. Dulu saya bersama satu orang teman bekerja di sebuah pabrik pembuatan peralatan dapur dari bahan batok kelapa dan kayu. Setelah itu, kami pulang ke Kediri. Akhirnya saya mulai memproduksi sendiri,” kata Turmudi ditemui di sela-sela bekerja, Kamis (24/1/2019).

Turmuji adalah satu dari sekian penderita ODGJ di Desa Sonorejo yang kini mampu hidup mandiri. Sunarto, selaku Pengendali Program Posyandu Jiwa di Kecamatan Grogol mengaku, ada perubahan yang signifikan dari Turmuji. Meskipun demikian, terkadang dia masih kerap kambuh dan berhalusinasi seperti minggu kemarin.

“Sampai sekarang Turmuji masih rutin memeriksakan diri ke posyandu. Saya sendiri juga rutin mengunjunginya ke rumah untuk melihat kondisi dan memastikan bahwa obat yang diberikan oleh posyandu tersebut diminum,” kata Sunarto.

Masih kata Sunarto, sebelumnya, Turmuji merupakan penderita gangguan jiwa yang cukup parah. Dia pernah akan membunuh orang tuanya. Namun berhasil dicegah oleh perangkat desa hingga kepolisian setempat.

Sementara itu, Posyandu Jiwa sendiri dibuka rutin sebulan sekali oleh pemerintah desa di Balai Desa setempat. Posyandu ini dikelola oleh Puskesmas Grogol serta dibantu relawan dari para pelajar yang peduli.

Pihak desa ingin menyembuhkan mereka dan merubah stigma masyarakat bahwa ODGJ membahayakan. Di Desa Sonorejo ini ada 28 ODGJ dan seluruhnya diperiksa secara gratis di posyandu tersebut. [nng/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar