Pendidikan & Kesehatan

Penanganan Cepat Covid-19, Kuncinya Jujur

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas

Banyuwangi (beritajatim.com) – Kasus konfirmasi positif Covid-19 di Banyuwangi mungkin bisa menjadi rujukan data bagaimana angka penularan virus ini begitu masif. Sebut saja contohnya di salah satu pondok pesantren di Bumi Blambangan ini.

Tempat menimba ilmu dan pendalaman agama islam itu bahkan menjadi klaster terbanyak menyumbang data pasien konfirmasi positif. Ada sekitar 600 an santri terpapar virus jenis Corona SARS Cov2 itu.

Awalnya, memang tak pernah menyangka pondok pemilik siswa terbanyak di wilayah Banyuwangi Selatan itu terjangkit virus corona. Perwakilan pengasuh pun sempat tak mempercayai itu. Tapi, akhirnya kondisi itu terjawab dengan pemeriksaan intensif oleh tenaga medis.

Anehnya, meski terpantau sehat namun santri dinyatakan positif, mereka tergolong dalam kategori orang tanpa gejala yang biasa disampaikan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 kabupaten, Provinsi maupun nasional.

Kasus itu cepat meluas meskipun pada akhirnya, para santri dapat kembali hidup normal. Mereka dinyatakan sembuh setelah keroyokan medis melakukan karantina lokal selama 14 hari di pondok tersebut. Tes Swab juga dilakukan sebagai parameter kondisi terkini pasien.

Usai kasus itu, corona ternyata tak berhenti. Sejumlah kasus lain menyusul. Bahkan menjadi klaster baru penularan melalui tranmisi lokal. Contohnya di kasus di Kejaksaan Negeri Banyuwangi maupun sejumlah kantor. Bahkan, dua pejabat Pemkab Banyuwangi mendapat imbas merasakan virus dari China tersebut.

Dari sekian kasus, semua dapat tertangani dengan baik. Melalui prosedur yang tepat dan cepat tentunya. Dari kasus awal hingga saat ini penanganan Covid 19 di Banyuwangi terbilang cukup cepat. Karena hanya satu kuncinya yaitu terus terang dan jujur.

“Dari semua orang yang mendapati ciri-ciri terkena atau gejala Covid tidak perlu malu, tidak perlu takut langsung saja. Karena dengan terus terang penanganannya lebih cepat,” ungkap Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Kamis (1/10/2020).

Sebagai acuan, sejumlah kasus Covid-19 di Banyuwangi memang mendapat perhatian sama. Sehingga penanganan menjadi mudah. “Salah satu contohnya kemarin ada beberapa klaster kalau nggak salah ada 3, contohnya lagi ada 15 orang karena mereka terus terang sehingga ditangani lebih cepat selesai. Termasuk nakes cepat melakukan tracing, dan kontak erat dengan yang bersangkutan,” katanya.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 bersama seluruh lapisan masyarakat hingga relawan bahu-membahu memutus mata rantai itu. Meskipun, sampai saat ini jumlah kasus masih terus bertambah seiring tingkat kesembuhan yang juga terus meningkat.

“Ini tren di banyak tempat, tapi kalau di sini tutup kayak PSBB di Jakarta kan repot, banyak warga yang tidak bisa jualan, hotel restoran tutup tidak boleh makan di dalam harus take away,” katanya.

“Dengan begini, harapan kami ketika ada kompromi ekonomi seperti ini, maka harapan saya protokol Covid harus dipatuhi. Di satu sisi, warga tetap bisa makan, ekonomi tetap berjalan, tanpa mereka dikorbankan, maka protokol Covid ini harus tetap jalan. Maka satu sisi warga tetap dapat rejeki, dan satu sisi kesehatan juga tetap terjaga,” terangnya.

Di beberapa lini dan sektor baik pertanian, pariwisata, pendidikan maupun pemerintah di ujung timur Pulau Jawa ini aktivitas masih terbilang normal. Kendati masih ada pembatasan waktu dan penyesuaian protokol kesehatan tetap harus dijalankan.

Sebagai data, tingkat kesembuhan pasien Covid 19 di Banyuwangi mencapai prosentase 75 persen. Dari jumlah total 1284 kasus, 172 dirawat, 1029 sembuh dan 83 di antaranya meninggal dunia. Data hingga Kamis (1/10/2020). [rin/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar