Pendidikan & Kesehatan

Penahan Jembatan Jalur Nasional Ambrol, Pakar Manajemen Konstruksi dan Proyek Sarankan Penggunaan Konstruksi Beton Bertulang

Surabaya (beritajatim.com) – Beberapa hari lalu, penahan jembatan yang menghubungkan jalan nasional di jalur selatan Probolinggo-Lumajang ambrol. Jembatan yang berada di Kelurahan Kedungasem, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo itu, mengalami kerusakan di hampir separuh penahan jembatan. Penahan jembatan hanya terdapat satu tepat di tengah bagian bawah. Sementara sebagian besar tembok atau pilar penyangga runtuh ke dasar sungai.

Hal ini menarik perhatian Guru Besar Magister Teknik Sipil Untag Surabaya, Prof. Dr. Dr (TS). Ir. H. Wateno Oetomo, memperkirakan kerusakan yang terjadi diakibatkan benturan benda keras yang terbawa derasnya arus sungai.

“Ada beberapa penyebab kerusakan. Yang pertama, derasnya air banjir yang melewati alur sungai dan ditambah dengan pepohonan atau timbunan yang ada disana sehingga saya meyakini bahwa terkena benturan dari pohon tadi,” paparnya dalam keterangan pers yang diterima beritajatim.com, Selasa (12/5/2020).

Debit air banjir yang meluap diperkirakan menjadi penyebab lainnya. “Sudah tidak banyak pohon yang bisa menahan air dan itu yang menyebabkan air banjir menjadi besar,” terangnya.

Melihat dari konstruksi jembatan, Ketua Program Studi (Kaprodi) Magister Teknik Sipil Fakultas Teknik itu juga memperkirakan usia jembatan nasional sudah cukup tua. “Jembatan itu memang usianya sudah tua, karena pilar dibagian tengah terdiri dari pasangan batu bata. Kalau jembatan sekarang kan menggunakan konstruksi beton,” tambahnya

Ambrolnya penahan jembatan ini dipastikan menghambat arus lalu lintas jelang lebaran. Olehnya, Pakar Manajemen Konstruksi dan Proyek ini menyarankan agar pemerintah segera melakukan penambalan. Melihat kondisi jembatan saat ini, Prof. Wateno menyebutkan kerusakan yang ada belum terlalu parah sehingga bisa dilakukan pemeliharaan. “Bisa dilakukan perbaikan dengan melakukan tambalan. Jadi tidak perlu dibangun ulang supaya bisa segera digunakan masyarakat,” ungkapnya.

Untuk jangka kedepan, pria kelahiran Kediri, 12 Juli 1947 itu menyarankan pembangunan jembatan menggunakan konstruksi beton bertulang dan membuat pengaman pilar. Konstruksi ini diharapkan agar jembatan nasional mampu bertahan dengan jangka waktu yang lama dengan kelebihan struktur beton bertulang yang kokoh dan tahan air. “Bagian pilar juga harus dilindungi dengan pelindung arah air atau pemecah arus sehingga aliran banjir yang akan menabrak pilar tidak langsung mengenai pilar namun dibelokkan,” tutupnya. [kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar