Pendidikan & Kesehatan

Pemda Perlu Belajar dari Jepang Menangani Corona

Christida Wastika

Jember (beritajatim.com) – Pemerintah daerah di Indonesia perlu meniru cara kerja pemerintah Jepang dalam menangani Covid-19, jika hendak membangun karantina bagi pemudik. Saat ini sejumlah daerah di Indonesia membangun karantina untuk menampung pemudik dari zona merah agar bisa melakukan isolasi diri 14 hari.

“Satu hal penting yang saya amati di Jepang adalah bagaimana mereka melakukan membuat perencanaan dan analisis risiko secara detail,” kata Christida Wastika, peneliti asal Indonesia di Division of Molecular Pathobiology, Research Center for Zoonosis Control, Hokkaido University, Jepang, Sabtu (11/4/2020).

“Apabila sudah disepakati bersama, mereka akan melakukan segala sesuatunya persis seperti dengan apa yang mereka rencanakan, termasuk dengan penanganan kecelakaan atau human error. Kalau pihak yang terlibat dalam perencanaan program karantina ini bisa melakukan seperti apa yang dilakukan orang-orang Jepang, pasti akan sangat membantu kelancaran proses karantina itu sendiri,” kata Christida.

Karantina harus memperhitungkan karakteristik virus Covid-19. “Severe acute respiratory syndrome coronavirus-2 (SARS-CoV-2) dapat bertahan di permukaan benda seperti plastik dalam jangka waktu tertentu,” kata alumnus Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada ini.

“Dalam kondisi terkontrol di laboratorium, titer virus di permukaan benda akan berkurang dari waktu ke waktu. Namun tentu saja kondisi tersebut masih tergantung berapa titer virus yang menempel pada permukaan benda tersebut,” kata Christida.

Titer virus adalah sebutan untuk jumlah virus atau banyak virus. Menurut dia, hingga saat ini masih belum diketahui berapa titer virus yang dibutuhkan untuk membuat seseorang menjadi sakit. “Minimal menunjukkan gejala klinis ringan seperti batuk,” kata Christida. Jadi pembersihan benda-benda yang sering dipegang oleh orang banyak menggunakan desinfektan seperti alkohol 70 persen sangat disarankan.

Christida menceritakan bagaimana perubahan terjadi di kampus Universitas Hokkaido setelah wabah Covid-19 menyerang. “Saat ini kapasitas kafetaria sudah dikurangi menjadi 50 persen dari jumlah aslinya. Segala menu makanan yang awalnya disajikan secara buffe kini sudah dibuat paket dalam plastik,” katanya.

Kafetaria biasanya menyediakan minum gratis yang disajikan melalui mesin pembuat teh. “Karena adanya wabah Covid-19 ini, layanan minum gratis dihentikan sementara. Pintu menuju kafetaria selalu dibuka selama kafetaria buka. Selain itu, jendela yang ada di kafetaria juga dibuka sedikit untuk menambah sirkulasi udara,” kata Christida. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar