Pendidikan & Kesehatan

Pelaku Usaha Perhotelan di Kota Malang Mengeluh Kewajiban Rapid Antigen

General Manager Whiz Prime Hotel Malang, Azis Sismono.

Malang (beritajatim.com) – Pelaku usaha perhotelan di Kota Malang menjerit atas kebijakan Pemerintah Kota Malang yang mewajibkan wisatawan harus membawa hasil rapid antigen saat menginap di hotel. Hingga saat ini imbas dari kebijakan itu, banyak tamu hotel membatalkan pemesanan.

General Manager Whiz Prime Hotel Malang, Azis Sismono mengatakan, pelaku usaha perhotelan menyayangkan kebijakan itu. Hingga periode Desember hingga akhir tahun sudah 50 tamu hotel membatalkan pemesanan. Mereka keberatan dengan syarat rapid antigen.

“Karena ada syarat begitu, akhirnya gak usah bepergian. Dan ini pun sudah ada pembatalan, yang tadinya sudah pesan, terus ada edaran seperti itu, akhirnya batal gak jadi datang. Memberatkan buat usaha hotel. Sejauh ini di kisaran 50 orang,” ujar Azis, Sabtu, (19/12/2020).

Azis mengatakan, selama pandemi terjadi pergeseran tren pemesanan kamar hotel. Rata-rata tamu hotel pesan pada H-1 atau memilih dadakan. Dengan kebijakan ini pengunjung hotel semakin malas menginap ke hotel sehingga ramai-ramai membatalkan pemesanan.

“Setiap harinya itu ada (pembatalan) karena dengan situasi belum menentu seperti ini, orang juga trennya sekarang untuk pemesanan kamar itu tidak jauh-jauh hari. Jadi dadakan aja, takut ada perubahan peraturan dan tata tertib. Akhirnya orang jadi males, melihat situasi sudah pasti baru pesan,” kata Azis.

Azis mengungkapkan, untuk protokol kesehatan pencegahan Covid-19 pelaku perhotelan sebenarnya telah mengantongi Cleanliness, Healthy, Safety and Environment (CHSE) dari Kemenparkraf. Sehingga, sertifikasi itu dianggap cukup dalam mencegah penyebaran Covid-19.

“Padahal sudah ada verifikasi dari protokol kesehatan, sudah disertifikat. Nah Itu apa gunanya gitu loh. Saya kira itu kalau harus dimaksimalkan, ya silahkan itu yang dikontrol, benar gak ini dijalankan CHSE-nya. Benar gak ini prokesnya dijalankan,” papar Azis.

Sebelumnya, Kota Malang kembali ke zona merah penyebaran Covid-19 setelah terjadi penambahan jumlah pasien pada dua pekan terakhir. Selanjutnya, Pemerintah Kota Malang mengeluarkan Surat Edaran nomor 32 tahun 2020 tentang pelaksanaan ibadah dan perayaan natal serta tahun baru 2021. Bagi hotel, restauran, kafe atau tempat serupa dilarang menggelar kegiatan yang mengundang massa di malam pergantian tahun.

“Imbauan seperti dilarang mengadakan acara, kayak makan malam, acara tutup tahun, itu kan akhirnya, ngapain juga orang nginap di hotel tapi gak ada aktivitas. Akhirnya ya gak jadi pesan kamar. Harusnya bagaimana caranya biar tetap jalan kan pihak pengusaha pasti sudah tahu, kapasitas saya sekian, jadi saya bisa membatasi pengunjung,” tandas Azis. [luc/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar