Pendidikan & Kesehatan

Pelaku Industri Wisata Minta Pemerintah Buka Bromo Saat Kasada

Probolinggo (beritajatim.com)  – Para pelaku usaha pariwisata di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), meminta pemerintah memberi kesempatan masyarakat luas berkunjung pada Perayaan Yadnya Kasada 2020.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restaurant Indonesia (PHRI) Kabupaten Probolinggo, Digdoyo Yochi, mengungkapkan, Kasada, adalah ritual keagamaan yang menyedot perhatian dunia. Karenanya tidak relevan kegiatan dimaksud tertutup untuk umum.

“Sejauh ini industri pariwisata sudah menerapkan protokol kesehatan. Artinya kami siap mengantisipasi hal-hal yang dikhawatirkan. Kami juga sediakan seluruh peralatan untuk menekan resiko penyebaran covid-19,” katanya, Minggu (21/6/2020).

Selain itu, lanjut pria akrab disapa Yoyok ini, dibukanya Kasada untuk umum, otomatis menghidupkan kembali usaha pariwisata yang sudah lima bulan mandek. “Kalau wisatawan bisa hadir, okupansi hotel naik. Restaurant buka. Karyawan kembali bekerja dan bisa membiayai operasional usaha mereka,” tutup dia.

Senada dikatakan Hendri Kurniawan, pengelola Hotel Lava View. Menurut dia, Kasada 2020 bisa menyambung nafas industri sektor pariwisata jika dihadiri wisatawan. “Tanpa pemasukan sama sekali kami dipaksa membayar pajak. Membayar listrik, air, dan kewajiban lainnya. Okupansi Hotel anjlok 0 hingga 10 %. Harus bagaimana kita ini. Covid-19 membuat ribuan tenaga kerja diindustri pariwisata kehilangan mata pencaharian” tegasnya.

Tak hanya pemilik hotel, lanjut dia. Sejumlah jasa wisata lainnya, seperti ojek kuda, jeep, sampai penjual asesoris dan cindera mata, lima bulan juga tidak ada pemasukan. “Siapa yang mau mengganti biaya perawatan kendaraan, hingga biaya makan kuda-kuda itu. Belum lagi kebutuhan hidup keluarga mereka,” tambah Hendri. “Jika terus begini. Tidak sampai sebulan lagi kami gulung tikar,” tutupnya.

Tidak diperkenankannya wisatawan menghadiri Perayaan Kasada, tentu berkaitan dengan pandemi covid-19. Harapannya, tidak terjadi claster baru positif covid-19 usai perayaan Kasada yang jatuh pada 6-7 Juli, pekan depan.

Tokoh Suku Tengger, Supoyo, memaparkan, Perayaan Kasada, tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Hanya inti ritual Kasada yang dilaksanakan. Yakni puja stuti para dukun, mulunen para calon dukun, sampai larung sesaji di kawah Gunung Bromo.

Untuk resepsi hingga pengukuhan warga kehormatan Suku Tengger, tidak lagi diadakan. “Ini kesepakatan warga Suku Tengger. Kami mematuhi anjuran pemerintah. Saat ritual nanti pakai masker, jaga jarak, sampai penggunaan termogun untuk memeriksa kesehatan peserta kami laksanakan, ” paparnya. “Kita cek KTP peserta. Jika bukan warga empat penjuru kawasan Bromo, yakni Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang, mohon maaf tidak kami perkenankan bergabung,” tutup Supoyo.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Probolinggo, Sugeng Wiyanto, tak bisa berbuat banyak saat disinggung soal desakan para pelaku pariwisata. “Saya memiliki keinginan sama dengan para pelaku usaha pariwisata. Apa lagi Kasada ini ditunggu dunia internasional. Tapi yang memiliki aturan boleh tidaknya agenda pariwisata ini dihadiri masyarakat umum kan satgas covid-19. Pemerintah daerah tidak bisa berbuat banyak terhadap satgas covid-19 yang menjalankan aturan dari pemerintah pusat,” katanya. (eko/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar