Pendidikan & Kesehatan

Di SMAN 1 Pacet

Pelajaran Seni Budaya Gunakan Media Wayang Beberan


Mojokerto (beritajatim.com)
– Di SMA Negeri 1 Pacet, untuk mata pelajaran seni budaya, para siswa tak hanya mempelajari seni tari, lukis dan musik saja. Seni wayang pun diajarkan, namun wayang yang digunakan sebagai media pembelajaran adalah wayang beberan.

Guru seni rupa SMAN 1 Pacet, Arif Setiawan menggunakan media lain, yakni kain bukan wayang dari kulit. Cerita-cerita rakyat dan kisah peradaban kerajaan Majapahit, dilukis di atas media kain tersebut. Para siswa melukis menggunakan tinta sablon rubber.

Arif sengaja membuat tidak menggunakan wayang kulit karena harganya yang mahal. “Nanti membebankan siswa jadi saya menggunakan media kain, biayanya lebih murah. Yaini wayang beberan,” ungkapnya, Kamis (28/2/2019).

Arif mulai mengajarkan kesenian wayang beber mulai tahun 2018. Awal mula dirinya mengajar kesenian wayang beberan, para siswa kesulitan dan kebingungan karena para siswa baru pertama kali mengetahui kesenian wayang beberan.

“Awalnya, para siswa kesulitan tapi kemudian tertarik dan menggambar bisa sampai malam hari. Kesenian wayang beberan hanya dipelajari oleh siswa kelas IX, total ada 275 siswa dari 9 kelas. Saya mulai mengajarkan teknik dasar melukis sejak awal semester,” katanya.

Cerita wayang diadaptasi dari novel Ajip Rosidi yang ia bagikan dan akan ia juga memberikan referensi mengenai wayang beberan dari Pacitan dan Surakarta. Mereka menuangkan cerita dari novel dengan melukis di atas kain yang dikerjakan dari Agustus sampai Desember 2018.

“Sama dengan wayang kulit, cerita wayang beberan dibawakan oleh seorang dalang, pengiring karawitan dan sinden. Tahun ini ada 18 dalang, 20 pemusik dan 9 sinden. Bedanya, dalang wayang beberan ada dua orang. Dua dalang itu membeber kain berisi gambaran cerita wayang,” ujarnya.

Mereka membeberkan cerita wayang per bab atau jagong. Satu gulungan terdiri dari 4 bab, total tahun ini ada 36 bab dari 9 gulungan. Dalang berdialog menceritakan isi cerita sembari diiringi karawitan dan sinden. Saat bercerita dalang akan menunjuk salah satu gambar di kain menggunakan tongkat.

“Garis imajiner, biasanya pohon, gapura, bangunan sebagai pembatas babak. Pagelaran wayang beberan masuk ke dalam ujian praktik sekolah dan masuk ke dalam penilaian rapor. Kekompakan dan penampilan menjadi penilaiannya. Saya juga menggandeng beberapa guru mata pelajaran lain,” jelasnya.

Seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, sejarah dan Bahasa Jawa. Selain itu, ia menggandeng pelaku kesenian lain Arif Gopar untuk pagelaran dan Achmad Arif Bantengan Mahesa Sura untuk mengajar karawitan.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Pacet, Sutoyo mengatakan, dengan kesenian wayang beberan, siswa dapat mengenal nilai luhur budaya bangsa dan terlibat secara langsung dalam melestarikan budaya.

“Harapan kami, jati diri dan nilai kebudayaan bangsa semakin eksis dan tak tergerus era globalisasi. Pihak sekolah juga akan terus memfasilitasi siswa,” tegasnya.[tin/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar