Pendidikan & Kesehatan

Peduli Gempa Sulbar Besok Pagi Kapal RSTKA Akan Menuju Mamuju

Surabaya (beritajatim.com) – Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA), akan segara berlayar menuju Mamuju Sulawesi Barat untuk melakukan aksi Peduli Gempa Sulbar.

RSTKA merupakan kapal medis milik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) dan IKA FK Unair. Setelah melakukan open recruitmen tenaga medis akhirnya RSTKA siap melakukan aksi kemanusian bagi korban gempa Mamuju dan Majene Sulbar.

dr Henry Wibowo MARS Sp And selaku Wakil Direktur Pelayanan dan Operasional RSTKA mengatakan bahwa malam ini kapal telah mendapatkan persetujuan berlayar dari syahbandar, sehingga kapal akan berlayar terlebih dahulu besok dan tenaga medis akan diberangkatkan kemudian dengan pesawat.

“Kapal sudah dapat izin malam ini, direncanakan hari akan berangkat besok pagi dan akan tiba sekitar 4 hari 4 malam sampai Makasar untuk menjemput crew. Terus menuju Mamuju lewat laut, sebab dikuatirkan jalan masih putus,” ujar dr Henry kepada beritajatim.com, Sabtu (16/1/2021).

Aksi kemanusiaan Peduli Gempa Sulbar rencananya akan dilangsungkan hingga 2 minggu terhitung setelah kru tenaga medis tiba dan bisa diperpanjang sesuai situasi. dr Henry mengatakan bahwa selama di Mamuju, RSTKA berfokus pada penanganan medis korban gempa dan trauma healing untuk anak anak, serta berusaha membantu pemulihan sektor ekonomi.

“Pengobatan medis mengikuti kondisi disana, kami siapkan untuk bedah dan perawatan luka, selain perawatan umum. Perawatan trauma healing untuk anak-anak juga menjadi fokus kita, jadi kita juga bawakan buku-buku untuk mereka. Dan kita lihat apa yg bisa dibantu supaya ekonomi bergerak lagi,” terang dr Henry.

Rencananya, selain melakukan pelayanan, tim medis RSTKA juga mendirikan tenda besar di darat untuk penangan dan akomodasi kru medis dan kapal. “Ya tetap adalah pelayanan di kapal tapi juga akan buat tenda di darat, kita bawa 5 tenda besar, ukuran 4x8m,” katanya.

dr Henry mengatakan bahwa untuk membantu para korban gempa Mamuju dan Majene dibutuhkan 2 dokter bedah, 2 dokter orthopedi, 2 dokter anastesi, 4 dokter umum, 2 apoteker, 2 perawat anastesi, 4 perawat bedah, 4 perawat umum, dan 4 tenaga administrasi.

Para tenaga medis ini didapatkan sebagaian besar dari open recruitmen, dan akan mendapatkan sokongan tenaga dari pihak FK Unair. “Hingga malam ini masih ada yang belum terisi, Insya Allah besok bisa terpenuhi, saat ini sedang rapat dengan jajaran Dekan Fk Unair dan Rektorat Unair, untuk koordinasi tenaga dan logistik,” ujarnya.

Untuk itu pihak FK Unair pun membantu dan berkoordinasi untuk mencukupi jumlah tenaga medis yang dibutuhkan. Prof Budi Santoso, Sp OG, selaku Dekan FK Unair pun memberikan guide line atau arahan terkait berangkatnya RSTKA menuju Mamuju.

“Kita punya Unit Bencana dan RSTKA yang akan berangkat pada besok subuh akan berangkat dengan 1 nahkoda, 5 anak buah kapal, 1 dokter spesialis bedah, dan tim lainnya 3 orang dengan kapal. 1 orang dokter anestesi, dr Christijogo Sumarto sebagai tim acu akan datang terlebih dahulu untuk memantau situasi disana,” ujar Prof Budi.

Tim acu yang dipimpin oleh dr Christijogo ini lah nantinya yang akan memberikan instruksi berapa banyak dokter dan tenaga medis dari FK Unair yang dibutuhkan untuk aksi kemanusiaan Peduli Gempa Sulbar ini. Prof Budi menyebut bahwa saat ini di Mamuju dan Majene, telah tangani sekitar 12 orang dokter spesialis orthopedi dari Universitas Hassanudin (Unhas).

“Karena kalau dalam kasus gempa begini memang yang paling banyak dibutuhkan adalah dokter orthopedi dan dokter bedah. Terlebih lagi dalam penanganan bencana, 1 minggu saja disana dokter dokter itu sudah capai karena banyaknya korban yang harus ditangani. Jadi nanti dari FK setidaknya akan menerjunkan tim medis sebagai tim ke dua setelah Unhas. Biar bisa gantian begitu,” terang Prof Budi.[adg/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar