Pendidikan & Kesehatan

Patuh 3M, Benteng Kuat ‘Perang’ Lawan Covid-19

Sumenep (beritajatim.com) – Rasanya tidak ada satupun yang mengira, masa pandemi Covid-19 ini berlangsung cukup panjang. Bulan demi bulan telah berganti, hingga hitungan ketujuh, masa darurat menghadapi virus ini masih belum berlalu.

Mereka-mereka yang ‘tumbang’ akibat Covid-19 ini jumlahnya masih bergerak naik. Meski seiring waktu, angka pasien yang ‘menang’ melawan virus ini juga melesat pesat.

Upaya berbagai pihak untuk menghalau serangan virus ini terus didengungkan. Pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta berbagai elemen lain, bergandengtangan dengan satu tujuan, lawan Covid-19. Salah satu yang sering diteriakkan adalah patuhi protokol kesehatan. Taati 3 M: Memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun.

Gembar-gembor 3M terdengar dimana-mana. Bukan sekedar slogan, tp sudah pada tindakan. Pada ‘action’. Menjaga diri sendiri dan orang-orang terdekat kita, memang tak cukup dengan kata-kata. Tapi perlu tindakan nyata.

Itu salah satu yang diungkapkan M. Iksan, salah satu warga Sumenep yang pernah merasakan sunyinya ruang isolasi Covid-19 di RSUD dr H. Moh. Anwar Sumenep. Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Sosial Sumenep ini merasa hatinya benar-benar hancur ketika hasil swab menunjukkan dirinya positif terpapar Covid-19.

Kejadian pahit itu berawal dari seringnya ia turun ke lalangan, menyerahkan langsung bantuan pemerintah untuk warga terdampak Covid-19. Sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai Kepala Dinas Sosial, dirinya rajin turba. Hingga suatu saat, ia bertemu teman lamanya, semasa mereka masih sama-sama mengajar di sebuah SMA di Sumenep.

Lama tak berjumpa teman lama itu membuatnya lupa dengan ‘rambu-rambu’ protokol kesehatan yang harusnya ia pegang teguh. Padahal ia tahu bahwa hasil rapid test teman lamanya itu reaktif.

“Saya memang teledor. Waktu itu karena kami lama tidak bertemu, maka kami bersalaman, bahkan berpelukan. Tidak ada physical distancing diantara kami,” tuturnya.

Melihat itu, salah satu teman karib Iksan menyarankan agar Iksan melakukan rapid test mandiri, mengingat ia telah melakukan kontak langsung dengan orang yang hasil rapid tes nya reaktif.

“Ternyata benar. Hasil rapid saya reaktif. Karena itu saya langsung swab. Sambil menunggu hhasil swab, saya melakukan isolasi mandiri. Setelah hasil swab keluar, ternyata saya terkonfirmasi positif dan harus dirawat di ruang isolasi Covid-19 di RSUD Sumenep,” ujarnya.

Ia pun menjalani hari-hsri berat di ruang isolasi, tanpa siapa-siapa. Baginya, ini saat yang paling sulit dilewati. Namun ia bersyukur, dukungan keluarga dan sahabat-sahabatnya masih mengalir deras.

“Stigma negatif masyarakat tentang Covid-19 ini sempat membuat saya merasa tak nyaman. Tapi saya bersyukur masih punya orang-orang yang setia mensupport kesembuhan saya,” paparnya.

Ia mengatakan, bagi dirinya pribadi, salah satu kunci kesembuhan penderita Covid-19 adalah optimis dan meningkatkan imun tubuh. Sembuh dari Covid-19 memerlukan keyakinan bahwa hari esok masih ada.

“Jangan sampai mental kita down. Ini bahaya karena bisa menurunkan imum kita. Kalau saya pribadi selalu ingat, masih banyak tugas yang harus saya selesaikan. Ada keluarga tercinta yang menunggu saya. Jadi saya harus sembuh,” tandasnya.

Ia pun rutin meminum vitamin yang diberikan dokter. Kebetulan, ia termasuk pasien tanpa gejala, sehingga tidak ada obat-obatan khusus yang harus dimimum. Ikhtiarnya pun membuahkan hasil. Hanya 5 hari ia dirawat di ruang isolasi, 2 kali hasil swab nya dinyatakan negatif.

“Alhamdulillah saya sudah dinyatakan negatif Covid-19. Setelah itu saya melanjutkan dengan isolasi mandiri di rumah selama dua minggu,” ucapnya.

Satu hal yang membuatnya bersyukur, orang-orang terdekatnya dinyatakan negatif Covid-19. Istri, anak, hingga sopirnya semua telah di rapid tes, dan hasilnya non reaktif.

“Setelah sembuh, saya tidak pernah bosan menyampaikan pada orang-orang yang saya temui, baik staff saya atau siapapub, jangan lupa pakai masker. Cuci tangan dengan sabun, dan hindari kerumunan. Tiga hal itu memang benteng utama kita melawan Covid-19. Jadi jangan pernah diremehkan,” ucapnya. [tem/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar