Pendidikan & Kesehatan

Pasien Miskin Tak Hanya Butuh Biaya Pengobatan Gratis JKN

Jember (beritajatim.com) – Pemerintah melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menjamin pengobatan gratis bagi pasien miskin dalam program Jaminan Kesehatan Nasional. Namun mereka sesungguhnya tak hanya membutuhkan jaminan pengobatan gratis.

Dalam penanganan kasus Muhammad Zidan Mutawakkil, bocah berusia lima tahun yang menderita penyakit tumor di bagian perut, tindakan medis lanjutan tidak bisa dilaksanakan karena terhalang keputusan orang tua. Zidan adalah anak pertama pasangan Muhammad Ilham dan Suryani, warga Dusun Krajan Kidul, Desa Balung Kulon, Kecamatan Balung, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Lima bulan lalu tumbuh benjolan di perutnya. Dari puskesmas, Zidan langsung dibawa ke Rumah Sakit dr. Soebandi. Dia sempat dirawat selama kurang lebih sepuluh hari di sana. Namun akhirnya ia pulang, setelah orang tuanya menolak untuk menjalani kemoterapi. Cerita-cerita mengerikan soal kemoterapi, yang tak semuanya benar, rupanya bikin keder Suryani. Saat ini Zidan dirawat di RSUD Balung.

Namun bukan hanya rasa takut terhadap kemoterapi yang menghantui Suryani. “Saya sempat ngobrol dengan Pak Camat, Pak Kades, dan Pak Kasun untuk bertanya problem (yang dihadapi orang tua Zidan). Nah, problemnya kemoterapi tak butuh sekali. Keluarga perlu biaya mendampingi dan biaya hidup selama sang anak menjalani kemoterapi di Surabaya,” kata Direktur Utama RSUD Balung Nur Cahyohadi, Jumat (15/3/2019).

Kemoterapi harus dilakukan di Surabaya, karena ahli penanganan kemoterapi untuk anak lebih tersedia di Rumah Sakit dr. Soetomo daripada di Jember. “Kemarin itu yang kami rembuk dengan Pak Camat, Pak Kades, dan Pak Kepala Dusun. Okelah, untuk riwa-riwinya (perjalanan ke Surabaya), bupati sudah punya program ambulans desa yang bertanggung jawab mengantar pulang dan perginya. Tapi tindakan kemoterapi tidak langsung dilakukan hari itu juga dan masih harus menunggu besoknya, kan dia (keluarga) butuh biaya hidup. Meskipun merea keluarga penerima manfaat dari program Dinas Sosial, itu kan tidak cukup jika dipakai untuk jangka panjang. Mereka kan menerima (bantuan) tiga bulan sekali,” kata Cahyohadi.

Apalagi, menurut informasi dari Asrotul Hikmah, warga yang sempat mendampingi Zidan, Muhammad Ilham terpaksa berhenti bekerja sebagai petugas keamanan pasar untuk merawat sang anak. “Sehari-hari mereka dibantu kerabat yang lain,” katanya.

Cahyohadi tidak tahu berapa kali kemoterapi harus dilakukan. Hanya dokter yang merawat Zidan nanti yang tahu. “Saya tidak berani memastikan,” katanya. [wir/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar