Pendidikan & Kesehatan

Pandemi Semakin Mewabah, Angka Kekerasan Pada Anak Pun Bertambah

Surabaya (beritajatim.com) – Di masa pandemi Covid-19 perhatian tertuju pada penanganan korban yang terpapar serta dampak ekonomi. Namun anak-anak sering tak masuk dalam pertimbangan kebijakan.

Mata kebijakan tertuju penuh saat semakin banyak anak-anak terpapar Covid-19, hingga 20 Juli 2019 ada 1.137 anak yang terpapar Covid-19 di Jatim. Artinya 6,6 persen dari total jumlah kasus terkonfirmasi positif di Jawa Timur adalah anak-anak. Jumlah itu dibagi menjadi 1,7 persen untuk anak usia 0-5 tahun, serta 4,9 persen untuk anak usia 6-17 tahun. Namun apakah anak-anak lain yang masih aman tak berdampak?

Ternyata bahaya yang dialami anak-anak tak sekadar terpapar Covid-19 tetapi angka kekerasan anak dan perempuan yang terjadi selama masa pandemi dari data yang dimilii DP3AK Provinsi Jawa Timur menyebutkan, hingga 16 Juli 2020 pun bertambah dan tercatat ada 699 laporan kekerasan terjadi pada perempuan dan anak di Jatim.

“Sebanyak 40,6 persen di antaranya berupa kekerasan seksual, diikuti kekerasan fisik dan psikis. Dengan lokasi terbanyak dilaporkan terjadi di rumah tangga, disusul fasilitas umum, tempat kerja dan sekolah. Ini sungguh mengenaskan. Ini yang harus disuarakan oleh para pihak. Terutama oleh teman-teman media, agar masyarakat dapat diedukasi secara benar,” ungkap Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur, Dr. Andriyanto, SH, M.Kes, melalui webinar Zoom, Selasa (21/7/2020).

Direktur Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Tulungagung Winny Isnaeni, S.Si mengatakan, salah satu isu perlindungan anak yang saat ini marak terjadi dan seringkali masih diabaikan dampaknya ialah isu kekerasan (termasuk di dalamnya kekerasan berbasis gender), eksploitasi, kesehatan mental anak, dan penelataran anak.

“Kasus kekerasan berbasis gender masih sering dianggap tabu oleh masyarakat karena pengaruh budaya dan lingkungan masyarakat. Ini yang kemudian menyebabkan kasus yang banyak terjadi tidak terungkap dan tidak ada penanganan maupun respon terhadap korban. Jika tidak dicegah dan ditangani dengan baik, kasus kekerasan dapat berdampak bagi korban,” jelas Winny yang juga duduk sebagai Fasilitator Nasional Sistem Perlindungan Anak.

Keluarga dan masyarakat merupakan sumber daya yang besar dan dekat dengan anak. Maka media yang dipercaya informasinya oleh publik memiliki posisi strategi untuk menguatkan keluarga dan masyarakat agar lebih melindungi anak yang menjadi tanggung jawabnya

Ditambahkan, keberhasilan suatu program pemerintah tidak bisa lepas dari peran media mainstream untuk menyebarluaskan perencanaan, pelaksanaan, dan capaian yang sudah dihasilkan. Dengan penyebarluasan isu yang dilakukan oleh media dapat membentuk persepsi publik dan aksi publik kedepannya.

Salah satu peran para pihak dalam mendukung media adalah memberikan asupan informasi untuk membangun pesan kepada masyarakat dalam berpartisipasi memberikan hak kesejahteraan dan perlindungan anak.

Sementara itu Child Protection Specialist UNICEF Kantor Perwakilan wilayah Jawa, Ir. Naning Pudjijulianingsih, M.Si mengungkapkan, di masa pandemi ini semua pencegahan kekerasan anak bisa dilakukan dari tiap rumah. Baik itu kolaborasi yang baik antara keluarga, sekolah, masyarakat serta media.

“Meskipun dalam kondisi sulit menghadapi pandemi, semua anak harus bisa dipastikan pendidikannya serta kontrol keluarga yang baik. Termasuk dalam kesehatan mental anak yang harus dijaga. Nah, media sangat berperan dalam hal ini,” tegas Naning Pudjijulianingsih.[rea/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar