Pendidikan & Kesehatan

Pakar Epidemilogi Unair Anggap PKKM Tidak Efektif Jika Hanya 2 Kota di Jatim

Surabaya (beritajatim.com) – Setelah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan pers terkait hasil rapat terbatas di Kantor Presiden pada 6 Januari 2021. Terutama mengenai kebijakan terbaru Pemerintah terkait upaya pengendalian Covid-19 melalui pengaturan kembali pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Kota Surabaya menjadi salah satu daerah yang terimbas dampak PKKM yang rencananya mulai diberlakukan 11 hingga 25 Januari 2021 mendatang. Kebijakan rupanya menuai banyak pro dan kontra. Bahkan ahli epidemiologi justru malah meragukan efektifitas PKKM di Jawa Timur, khususnya Surabaya.

Ahli Epidemilogi Universitas Airlangga Surabaya, Windhu Purnomo mengatakan, dirinya meragukan efektifitas pemberlakukan PKKM. Alasannya kebijakan ini hanya di berlakukkan untuk Surabaya raya dan Malang raya saja. Seharusnya PPKM ini diberlakukan di 36 kota dan kabupaten di Jawa Timur.

Karena melihat presentasi angka kematian di Jawa Timur akibat Covid 19 ini cukup tinggi di bandingkan nasional, untuk tingkat kota dan kabupaten di Jawa Timur ini mencapai 3 persen hal ini sama dengan angka kematian tingkat nasional.

“Pembatasan ini jelas tidak efektif jika hanya diberlakukan di dua kota saja Surabaya dan Malang karena melihat angka kematian di Jawa Timur hampir sama dengan nasional. Harusnya kebijakan ini bisa diperluas. Karena apa masyarakat masih bisa melakukan kegiatan meskipun dibatasi dan hal ini masih ada potensi menimbulkan kerumunan,’ ungkap pria berkacamata ini, Jumat (8/1/2021).

Ditambahkan jika pemberlakukan ini tetap dilakukan tidak menjamin penyebaran akan berkurang pasalnya ini hanya pemberlakuan semi lockdown, seharusnya Pemerintah memberlakukan lockdown di seluruh wilayah dan melakukan deteksi dini dengan melakukan tes swab dan skirnning kepada masyarakat. [way/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar