Pendidikan & Kesehatan

Pakar: Awas Surabaya Orange ‘Dilunturi’ Sidoarjo Jadi Zona Merah Lagi

Surabaya (beritajatim.com) РPakar Epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yang juga Tim Riset Polda Jatim, Dr Windhu Purnomo mengungkapkan, bahwa Surabaya Raya telah bergantian menjadi zona orange.

Sebelumnya, pada 13-19 Juli 2020, Sidoarjo telah berhasil menjadi zona orange, namun kembali merah lagi. Per hari ini, Surabaya dan Gresik telah menjadi zona orange. Artinya,.ada kemajuan dalam penanganan Covid-19 di Jatim, khususnya Surabaya Raya.

“Tapi awas Sidoarjo masih merah. Jangan sampai Surabaya yang sudah orange dilunturi Sidoarjo dan bisa jadi merah lagi. Surabaya dua minggu terakhir ini stabil di orange. Gresik juga orange,” jelasnya saat Kegiatan Expose Publik tentang Survey Pencegahan dan Pengendalian Pandemi Covid-19 Surabaya Raya di Taman Surya Balai Kota Surabaya, Rabu (12/8/2020) malam.

Acara ini juga dihadiri Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Kapolda Jatim Irjen Pol Fadil Imran, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Widodo Iryansyah, Bupati Gresik Sambari Halim Radianto, perwakilan Ormas dan Organisasi Kepemudaan, tokoh agama FKUB Jatim dan pimpinan media massa.

Berdasarkan attack rate atau infeksi per 100.000 populasi, Jakarta memiliki attack rate tertinggi nasional, yakni 235,5. Sedangkan, Jawa Timur sebenarnya urutan ke-12 dengan attack rate 61,4, yang artinya kurang lebih seperempat dari Jakarta.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Kapolda Jatim Irjen Pol Fadil Imran, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Widodo Iryansyah, Bupati Gresik Sambari Halim Radianto, perwakilan Ormas dan Organisasi Kepemudaan, tokoh agama FKUB Jatim dan pimpinan media massa di Balai Kota Surabaya, Rabu (12/8/2020)

“Kesembuhan di Jatim cukup tinggi, per 11 Agustus kesembuhan Jatim (71,9 persen) telah melebihi persentase kesembuhan nasional (64,7 persen) dan global (64,2 persen). Saat ini, masalah Rumah Sakit di Jatim yang sempat overload, kini sudah teratasi dengan cukup baik. Kematian yang masih cukup tinggi di Jawa Timur diduga karena masih banyaknya pasien Covid-19 yang takut untuk periksa lebih dini, sehingga datang di Rumah Sakit sudah dalam kondisi terlambat,” jelasnya.

Rate of transmision (Rt) Jawa Timur berdasarkan onset sampai dengan 25 Juli sudah dibawah 1 selama enam hari.

Sementara itu, berdasarkan hasil survei, Prof Hermawan ‘Kiki’ Sulistyo dari LIPI menjelaskan, sebanyak 59,2 persen masyarakat percaya bahwa ‘Kampung Tangguh’ efektif untuk menekan Covid-19.

Saat ini, lanjut dia, 88,1 persen masyarakat di Surabaya Raya telah memahami protokol kesehatan Covid-19, namun pemahaman lebih rinci mengenai penyakit Covid-19 masih kurang. Sehingga, muncul anggapan Covid-19 adalah konspirasi.

“Menurut sebagian besar masyarakat di Surabaya Raya atau 67 persen, PSBB di Surabaya Raya sangat efektif dalam mengurangi penyebaran Covid-19. Rekomendasinya adalah mengubah paradigma, tidak hanya sosialisasi protokol kesehatan, tapi juga dampak Covid-19 melalui semua channel khususnya medsos dan tokoh agama,” imbuhnya.

Kemudian, dia mengusulkan agar mengalihkan sumberdaya untuk memastikan aktivitas publik dan protokol kesehatan berjalan dengan baik, serta meningkatkan akses internet gratis ke masyarakat.

“Optimalkan kampung tangguh, munculkan reward dan punishment untuk protokol kesehatan, tingkatkan kecepatan tes dan penanganan. Minimalkan dampak negatif di masyarakat, yakni konflik sosial dan resesi di UMKM dan sektor strategis,” pungkasnya. (tok/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar